Merekontruksi Pendidikan Sebagai Bentuk Pendataan Kesadaran

Merekontruksi Pendidikan Sebagai Bentuk Pendataan Kesadaran
Disampaikan dalam acara diklat pecinta alam Ken Arok dan Ken Dedes
MA Darul Latief Ar-Rosyid
Oleh: Miskawi, S.Pd *)

Seperti kita ketahui bersama dan tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa sekolah dalam perjalanannya telah memainkan peran yang sangatlah dominan . Keberhasilan sekolah mengelolah dunia telah mampu untuk menakjubkan, berhasil dan sukses menghegemoni masyarakat untuk dengan sukarela menyerahkan masa depan putra dan putrinya bagi segenap orang tua karena sekolah merupakan tempat “penempatan manusia menjadi manusia”. Jadi tidak salah jika sekolah saat ini menjelma menjadi sebuah kekuatan yang absolute dan mampu menjadi sebuah penguasa yang dominatif terhadap bublik (masyarakat) dan public akhirnya menjadi patuh kepada sekolah.
Keberadaan sekolah ini pada akhirnya memproduksi manusia-manusia elit yang pada akhirnya lambat laun meminggirkan komunitas lain yang tidak berdaya terutama kaum miskin yang tidak mampu melanjutkan putra-putrinya untuk melanjutkan sekolah. Maka kaum miskin saat ini telah menyandang label, bodoh, buta huruf, desa dan terbelakang. Sehingga pelabelan inilah yang saat ini telah menyingkirkan kaum miskin dri dunia pendidikan (sekolah).
Melihat realitas keterpurukan dunia pendidikan kita, hal ini tentunya sangatlah menghawatirkan terhadap masa depan bangsa dan Negara. Tentunya kita tidak bisa berpangku tangan dan diam melihat kenyataan pahit generasi kita ini. Kita harus menyadari ini semuanya kalau tidak kita semua akan dihujat oleh generasi penerus karena membuat peristiwa sejarah yang salah dan mengecewakan para pendahulu yang telah memperjuangkan nasib pendidikan. Salah satunya apa yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini yang baru saja kita memperingatinya tanggal 21 April 2009 sebagai hari Kartini. Usahanya terhadap emansipasi dalam dunia pendidikan khususnya hak bagi perempuan semuanya sama mendapatkan pendidikan. tetapi yang diharapkan oleh R.A kartini dan ini belum pernah diketahui masyarakat bahwa bukan hanyalah emansipasi wanita dalam memperoleh pendidikan, tetapi hak mendapatkan pendidikan bagi kaum miskin yang saat ini tertindas oleh system yang belum pernah berpihak pada masyarakat pada umunya dikarenakan biaya pendidikan mahal. Hal ini tentunya didukung pula dengan dibukanya kelas favorit dan tidak. Kelas favorit ini didukung dengan biaya yang mahal, pengajarnya professional, anak dari keluarga elit. Sehingga sekolah yang tidak favorit dianggap terbelakang dikarenakan sarana dan prasarana yang tidak mendukung dan mayoritas yang menyekolahkan dari kalangan keluarga sederhana dan kurang mampu. Akibat pengkotakan sekolah tersebut, maka kalangan yang menyekolahkan di sekolah tidak terfavorit (sekolah dari kalangan kurang mampu) tersingkirkan dan menerima sebuah kenyataan yang ada, sehingga secara psikologis masyarakat berpengaruh.
Akhir-akhir ini banyak bermacam-macam jenis dana yang mengalir pada sebagaian sekolah di Indonesia. Namun setelah dana dikucurkan sedemikian besar, mengapa mutu pendidikan masih begini-begini saja. Dana yang diperuntukkan bagi sekolah sangat banyak sekali , yaitu dana peningkatan kegiatan belajar-mengajar (KBM), misalnya BOMM(bantuan operasinal peningkatan mutu), DAU (dana alokasi umum), JPS (dana jaringan pengamanan social), DBO (dana bantuan oprasional), BKM (bantuan khusus murid) dan BKS (bantuan khusus sekolah). Sekolah mendapatkan keleluasaan dalam penggunaan dana-dana tersebut. Cuman yang disayangkan, sekolah cenderung memanfaatkan dana-dana tersebut untuk sarana fisik, misalnya perbaikan bangunan sehingga pendidikan saat ini perlu adanya kesadara bahwa jagan pernah melupakan dan melalaikan upaya peningkatan mutu KBM dan SDM.
Seiring dengan diberlakukannya Undang-undang Dasar yang telah mengamanatkan pendidikan dialokasikan sebesar 20% dari APBN, yang menjadi pertanyaan kita semuanya apakah semuanya terialisasi? Biarkan masyarakat yang berbicara, karena masyarakat yang mengetahui hasil dari diberlakukannya UUD apakah sudah dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
Semuanya ini bukan mengada-ngada, tapi inilah potret pendidikan saat ini. nyatanya masih banyak kalangan yang belum tersentuh. Coba kita liat realita nyata disetiap lampu lalu lintas masih banyak anak dibawah umur 12 tahun tidak sekolah, tidak bisa ikut ujian dikarenakan tidak mampu membayar SPP atau uang pembangunan. Saya bisa menyimpulkan inilah swastanisasi sekolah yang tidak jauh berbeda pada masa orde baru.
Diera Orde baru, ideology pembangunan (Developmentalism) telah membawa kegagalan dunia pendidikan atau persekolahan kita. Dimana sekolah dijadikan mesin produksi negara guna mencetak manusia untuk memenuhi tuntutan pasar. Sehingga tidak salah jika pendidikan akhirnya melahirkan watak-watak koruptor yang bersandang Sarjana, magister, doctor dan Profesor yang diperoleh lewat jalur pendidikan. Apalagi pendidikan kita ini nampaknya tidak menjadi focus perhatian pemerintah. Pemerintah lebih focus pada bagaimana mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak melakukan langkah pemerataan setiap warga Negara. Kalau pemerintah sadar bahwa rakyat sebagai aset pembangunan bangsa, maka pendidikan untuk setiap warga Negara menjadi perioritas utama.
Sebenarnya, merekontruksi ini tidak lain sebagai bentuk pendataan kesadaran kita semuanya, agar pendidikan saat ini menjadi lebih baik karena kita tidak bisa mengatakan kondisi pendidikan ini baik dengan bantuan anggaran 20% dari APBN. Kita semuanya butuh bukti yang sifatnya nampak bukanlah remang-remang lagi.
Marilah kita berfikir baik pembuat kebijakan, penerima kebijakan, untuk saatnya membuka diri demi bangsa tercinta ini terutama dibidang pendidikan. Jadikan pendidikan saat ini menjadi pendidikan yang merdeka dan membebaskan. Karena merdeka dan membebaskan merupakan sebuah roh bagi pendidikan itu sendiri.
Maksudnya pendidikan yang bebas dan merdeka disini adalah yang pertama: manusia mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan dan hak berekspresi dari apa yang telah didapatkan dari pendidikan, jadi maksudnya mereka harus bebas , tidak ada diskriminasi hanya karena latarbelakang fisiknya, setatus ekonominya, budayanya dan lain-lain. Sehingga mereka mendapatkan perlakukaan yang sama terhadap pendidikan.
yang kedua: jangan pasung kebebasan berfikir. Karena kebebasan berfikir tidak sama dengan kebebasan berbuat. Orang tidak bisa berbuat tapi orang harus berfikir bebas.
Ketiga: bebas pembagian kelas antara yang kaya(mampu) dan yang miskin(tidak mampu) dan yang penting lagi bebaskan pendidikan dari dominasi birokrasi politik, kalau tidak sekolah akan hancur keberadaannya. Yang menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semuanya, strategi apa yang digunakan sehingga pendidikan tidak menutup mata bagi si miskin. Padahal pendidikan hak bagi semua manusia, tidak memandang miskin dan kaya semuanya mendapatkan hak yang sama. Karena dalam kontek ini, tidak ada manusia yang dibatasi oleh siapapun untuk mendapatkan pendidikan.

Published in: on January 24, 2010 at 1:07 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://miskawi.wordpress.com/2010/01/24/merekontruksi-pendidikan-sebagai-bentuk-pendataan-kesadaran/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: