PKI di Banyuwangi

oleh: Miskawi*

Kemerdekaan Bangsa Indonesia di dapat bukan dengan jalan yang mudah tetapi melewati perjuangan yang panjang. Gagalnya perjuangan fisik yang dilakukan bangsa Indonesia sejak pertama kali Kolonialis Belanda ke Indonesia menjadikan kaum terpelajar Indonesia tahun 1596 menjadikan kaum terpelajar Indonesia merubah arah perjuangan kearah perjuangan non fisik melalui sistem kepartaian.

Bentuk perjuangan tersebut salah satunya berupa organisasi-organisasi salah satunya munculnya organisasi Budi Utomo (1908). Sejak munculnya Budi Utomo inilah bermunculan pula organisasi-organisasi masyarakat yang pada akhirnya berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Salah satu organisasi politik yang terbentuk pada waktu itu adalah Indische Sociaal Demokratische Vereeniging (ISDV) pada tahun 1913 yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan satu-satunya organisasi politik di Indonesia yang beraliran sosialis. Dalam perkembangannya PKI banyak mendapatkan simpati dari masyarakat bawah yang terdiri dari golongan pedagang dan petani serta buruh karena tertarik dengan propaganda-propaganda yang didengungkan oleh anggota PKI. PKI juga menerapkan kebijakan politik partai untuk menyusup dan memecah belah partai lain agar akhirnya bergabung dengan PKI. Hal tersebut terjadi pada Sarekat Islam yang kemudian pecah menjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah (Cahyo, 2004:17).

Keberadaan PKI di Indonesia berkembang sangat pesat terutama setelah Indonesia Merdeka. Perasaan benci bangsa Indonesia terhadap negara barat dan paham-pahamnya membuat Indonesia awal kemerdekaan lebih dekat dengan aliran sosialis. Hal ini juga ditambah lagi oleh pihak pemerintah Orde lama menasionalisasikan berbagai modal orang-orang eropa tanpa memberi ganti rugi (Soewarso, 1989: 168) . Kurannya keharmonisan tersebut dimanfaatkan oleh Komunisme.

Sejak tahun 1965 PKI mampu menjadi partai politik besar yang disegani oleh lawan politiknya. Pada tahun 1965 PKI banyak melakukan pembunuhan demi mencapai tujuannya untuk membentuk negara komunis Indonesia salah satunya pembunuhan terhadap para Jenderal di Jakarta yang buang kedalam Lubang Buaya dikenal sebagai pahlawan revolusi. Hal inilah yang nantinya dibalas pada tahun 1966 lewat pembantaian anggota PKI secara besar–besaran oleh berbagai lapisan masyarakat terutama masyarakat yang beragama Islam (Hermawan Sulistyo, 2000 :505).

Pembantaian PKI tersebut juga berdampak di Pulau Jawa bagian paling Timur yaitu Kabupaten Banyuwangi. Akan tetapi, tragedi pembantaian ini terjadi setelah pembunuhan para jendral yang dikenal gerakan 30 September 1965. Pembantaian PKI yang berada di Kabupaten Banyuwangi terjadi di Dusun Cemethuk, Desa Cluring Kecamatan Cluring merupakan saksi berdarah yang dilakukan terhadap 62 orang Ansor oleh PKI. Pembantaian tersebut dimasukkan kedalam 3 sumur tempat penguburan massal para korban pembantaian. (Data Prasasti Monumen Pancasila di Dusun Cemetuk, 1965).

Dilihat dari nilai sejarahnya, peristiwa yang terjadi di Cemetuk terdapat keunikan, yang pertama: akibat pembantaian PKI terhadap Pemuda Anshor maka dibuatkan monumen pancasila yang sebelah kanan kirinya terdapat patung raksasa dan sekaligus untuk mengenang peristiwa sejarah yang cukup penting dalam sejarah Banyuwangi sekaligus penanda pengembangan jaringan partai berlambang palu arit, seperti halnya Monumen Pancasila para Pahlawan Revolusi sebagai korban dari keganasan G 30 S/PKI, maka dibangun sebuah monumen pancasila; keunikan yang kedua terdapat sebuah relief yang menceritakan tentang pemberontakan antara PKI dan pemuda Anshor di daerah cemetuk; dan keunikan yang ketiga di Cemetuk terdapat tiga lubang buaya sebagai tempat penguburan massal.

Apabila kejadian-kejadian lokal ini diinventarisasi, maka mampu menambah khasanah sejarah Nasional Indonesia, bermanfaat bagi pembangunan substansi penulisan sejarah kontemporer Indonesia yang belum terjangkau sampai saat ini dan lebih-lebih dijadikan sarana pembelajaran bagi siswa-siswi, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Pengkajian sejarah PKI di Cemetuk didukung oleh sumber primer yang merupakan saksi hidup dari tragedi pembantaian tahun 1965.

Namun Sejarah Nasional hanya sedikit sekali menyediakan ruang untuk mengungkap sejarah PKI di Dusun Cemethuk Kabupaten Banyuwangi. Hal ini dibuktikan dengan minimnya buku-buku sejarah yang bisa menjelaskan tragedi di Cemethuk secara komprehensif atau tidak terkover secara maksimal sedangkan Pemerintah terlalu memfokuskan penulisan sejarah PKI dalam Gerakan 30 September dan mengabaikan penelitian sejarah di tingkat lokal. Padahal bila melihat pada banyaknya korban dan juga saling keterkaitan dengan perkembangan PKI di Nusantara, seharusnya Tragedi Cemethuk sangat relevan untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari Sejarah Nasional. Hal yang lebih parahnya lagi, masih banyak masyarakat Banyuwangi belum banyak mengetahui tentang keberadaan Monumen Pancasila dan lubang buaya sebagai akibat keganasan PKI cemetuk.

*) Dosen Universitas 17 agustus 1945 Banyuwangi dan masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Banyuwangi

Published in: on January 13, 2010 at 2:36 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://miskawi.wordpress.com/2010/01/13/7/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: