Kesadaran Sejarah, Pendidikan dan R.A Kartini

Kesadaran Sejarah, Pendidikan dan R.A Kartini
Oleh : Miskawi. S.Pd

Bangsa yang besar adalah bangsa yang paham akan sejarahnya………
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai tanah airnya………
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai bendera tanah airnya………

Pada kesempatan ini kami mengajak seluruh masyarakat untuk paham akan peristiwa sejarah dan mampu belajar sejarah dan lebih-lebih adanya kesadaran sejarah untuk mencintai tanah airnya dan mampu pulah mencintai bendera tanah airnya. Peristiwa sejarah atau sejarah dalam konteks keilmuan (ilmu sejarah) memiliki watak trimendisional kesinambungan antara hari kemarin, sekarang dan yang akan datang. Ketiga komponen inilah sangat berketerkaiatan erat, tidak terpisahkan dan dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Kalau kita mencoba untuk menganalisis bahwa masa lampau adalah pijakan bagi kehadiran masa kini dan masa kini merupakan sebuah kerangka pematangan untuk masa yang akan datang. Inilah nilai pentingnya adanya kesadaran sejarah dan belajar dari sejarah bukan bagaimana belajar sejarah.
Dengan adanya kesadaran sejarah kita semua akan lebih menjadi arif dan bijaksana dalam memaknai sebuah hidup terutama dalam melakoni masa yang belum pasti, paling tidak kesadaran sejarah akan mengantarkan kita untuk tidak berbuat salah untuk kesalahan sama yang akan datang.
Gambaran diatas adalah salah satu nilai penting tentang kesadaran sejarah. Yang perlu kita renungkan bersama apakah kita semua sudah belajar dari sejarah. Belum semuanya……….! Acuanya adalah potret Indonesia saat ini sangatlah memperihatinkan, mengalami kembang-kempis. Maksud semua ini bukan menjelekkan bangsa, tapi dengan mengetahui dan mampu memperbaiki bangsa, karena cinta inilah sebagai sebuah bentuk nasionalisme terhadap bangsa Indonesia sebenarnya.
Saya sadar memang untuk mewujudkan Indonesia seutuhnya memerlukan waktu yang yang bertahap dan menjadi lebih baik, tetapi kenyataannya apa yang telah kita berikan buat bangsa kita selama 63 tahun ini. Kenyataannya Indonesia mengalami krisis multidimensi salah satunya dunia pendidikan.
Pendidikan saat ini telah menghasilkan watak-watak penindas, gelar ahli madya, Sarjana, magister, Doktor dan Profesor diperoleh dari pendidikan. Bangsa Indonesia terkenal sebagai Negara Korupsi yang dilakukan oleh para koruptor yang bersanding gelar ahli madya, Sarjana, magister, Doktor dan Profesor. apakah bisa dikatakan jika pendidikan telah mengasilkan karakter-karakter yang mampu membangun bangsa saat ini. Jawabanya tidak?……..
Kita sebagai masyarakat dari bangsa ini, harus sadar dan menyadarinya bahwa salah satu akibat langsung dari keuntungan pendidikan dalah munculnya organisasi modern di Indonesia yang mampu mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Jadi malah dengan majunya pendidikan dan ditunjangan angaran 20 % seharusnya menjadi lebih baik dan mampu mencetak kader yang memikirkan nasib bangsa ini.
Berbicara masalah pendidikan pada masa pemerintahan Kolonial, pendidikan diwajibkan untuk semua anak-anak Indonesia. Usaha kepedukian ini banyak didirikan sekolah mulai sekolah rendah sampai dengan sekolah tinggi. Tapi yang disayangkan yang bisa sekolah atau yang mempunyai kesempatan belajar adalah dikalangan laki-laki. Melalui pengajaran atau dilibatkan dalam dunia pendidikan agar laki-laki ini mendapatkan kedudukan social yang lebih tinggi dan kehidupan yang lebih baik dari pada perempuan.
Terus bagaimana tentang nasib perempuan dalam dunia pendidikan. Perlu saya garis bawahi pendidikan untuk perempuan masih dikatakan minim, jika ada pendidikan perempuan hanya diperioritaskan pada lingkungan keluarga saja. Maksudnya pendidikan yang diperoleh tidak lebih dari sekedar persipan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, seperti memasak, menjahit dan membatik, inilah ikatan adat yang terjadi pada perempuat yang akhirnya berimbas bahwa perempuan ketinggalan jauh dengan laki-laki
Dengan melihat kedudukan perempuan yang jauh berbeda dengan laki-laki, maka wanita berusaha untuk memperjuangkan kebebasannya. Upaya perjuangan kebebasan dalam masyarakat Indonesia sering dikenal dengan emansipasi sedangkan didunia barat dikenal dengan sebutan femenisme.
Emansipasi wanita sendiri terkandung dalam jiwa wanita pada saat itu tidak lain adalah keinginan untuk mendapatkan persamaan hak dan kebebasan dari lingkungan adat. Kalau ditarik pada kondisi saat ini terutama dalam pendidikan adalah kesamaan hak memperoleh pendidikan antara laki-laki dan perempuan
Emansipasi perempuan dalam dunia pendidikan ini tentunya tidak lepas dari peranan Raden Ajeng (R.A) Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan dalam dunia pendidikan. Masyarakat khususnya kalangan muda hanyalah mengerti bahwa R.A Kartini sebagai Tokoh pergerakan Nasioanal Indonesia, tapi masih dangkal pemahaman apa yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini. Perempuan saat ini bisa sekolah bukan karena Keluarganya mampu menyekolahkan, tetapi usaha dari perjuangan Kartini yang mampu merubah budaya adat sebelumnya bahwa yang bisa sekolah hanyalah laki-laki.
Bagi Kartini pendidikan merupakan masalah pokok bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan bukan hanya ditujukan kepada kaum laki-laki untuk menjadi pangreh praja, jaksa, dan melanjutkan kepada pendidikan yang jenjangnya lebih tinggi, tetapi pendidikan bagi kaum wanita harus diutamakan juga.
Jadi pendidikan kaum perempuan selain mengasah intelegensi juga mampu membangun sopan santun dan kesusilaan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Usaha yang dilakukan oleh kartini ini juga mendapatkan dukungan Van Deventer, sehingga pada tahun 1912 Kartini mampu mendirikan Sekolah Kartini dan Kartini adalah sosok wanita yang pertama kali mendapatkan ijazah guru. Akan tetapi perjuangan tersebut tidak sesuai dengan tujuan awal karena Kartini meninggal pada tahun 1904 dalam usia 25 tahun.
Jadi pendidikan yang diperoleh saat ini tidak lepas dari perjuangan para pahlawan sebelumnya khususya perjuangan R.A Kartini. Ternyata kalau direnungkan kembali ternyata dampak perjuangan kartini bukan hanya emansipasi perempuan di dalam dunia pendidikan. Tetapi juga bagi laki-laki juga mendapatkan hak yang sama atau sejajar. Saya contohkan khususnya laki-laki yang bisa melanjutkan sekolah hanyalah dari golongan mampu atau bangsawan, tetapi imbas emansipasi Kartini. Masyarakat Indonesia yang tidak mampu, bisa melanjutkan sekolah (pendidikan) baik laki-laki dan perempuan dan hal ini mampu menggugah pemerintah untuk membantu dalam pendidikan dengan sebesar 20%.
Mengingat nasib pendidikan saat ini, tentunya apa yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini menjadi sebuah kesadaran dalam dunia pendidikan. Dengan kesadaran ini tentunya pendidikan harus menghasilkan dan mampu melahirkan orang-orang pintar yang mampu mengisi bangsa dan memperjuangkan bangsa menjadi bangsa yang merdeka. Bukan malah dengan kepedulian pemerintah ini, pendidikan malah mencetak para penyakit bangsa khususnya pendidikan bagi para koruptor .

Published in: on January 24, 2010 at 1:09 pm  Leave a Comment  
Tags:

Budaya Korupsi Masyarakat Indonesia

Budaya Korupsi Masyarakat Indonesia
(di sampaikan dalam acara seminar HMJ Sejarah
Universitas 17 Agustus 1945)
Oleh: Miskawi *

Apa sebenarnya yang telah kita kerjakan selama 63 tahun kemerdekaanm ini, Negara-negara Asia yang lebih kemudian merdeka telah meninggalkan kita. Tentunya kata “sepertinya” bukan lagi menjadi suatu alasan atau argument tentang negeri ini, yang benar adalah “sebenarnya” ada yang salah dengan negeri ini. Sudah 63 tahun lebih 1 bulan keadaannya tak jauh berbeda dengan masa Jepang. Misalnya Korea pada tahun 1953 masih perang dan Malaysia pun baru merdeka pada tahun 1958, Vietnam baru merdeka pada tahun 1970-an dan Jepang pada tahun 1945 hancur tak tersisakan akibat bom dari Sekutu. Tetapi kenapa ketiga Negara tersebut lebih unggul dan lebih sejahtera tidak seperti negeri Indonesia yang hidupnya selalu kembang kempis, kere, pas-pasan, serba kekurangan dan lebih-lebih ngutang kenegara lain. Yang kaya menjadi kaya khususnya pejabat yang berdasi, bermobil,berintar permata, yang miskin tetap menjadi tambah miskin karena kewajiban mereka diambil yang kaya (berdasi, bermobil,berintan permata). Apalagi bicara masalah pemilihan baik aparatur desa, Bupati, Gubenur, Presiden, semuanya mengatasnamakan rakyat yang mempunyai tujuan untuk memerdekakannya disegala bidang (sebuah cita-cita yang bagus) tapi perlu dingat kembali seorang pemimpin bukan bercermin pada dirinya sendiri tapi pada rakyatnya, hanya rakyat yang mengerti dan mampu memberikan evaluasi semuanya, sehingga jangan pernah menyalahkan rakyat jika harus berprilaku radikal, anarkis karena itulah adalah sebuah pisau dari ketidak adilan yang terjadi saat ini. Sangatlah memprihatinkan sekali bagi rakyat kecil di negeri ini sebagai dampak dari permasalahan diatas. Malah saya tidak tau apa lagi artinya merdeka! Pada kesempatan kali ini tentunya tidak mengungkit atau mengadah-ngadah tetapi ini sebuah kenyataan buram bagi negeri ini yang dikatakannya sebagai negeri yang memiliki kekayaan yang mendukung.
Kadangkala sempat berfikir, apakah rakyat kecillah yang membuat kesalahan. bukankah rakyat kecillah yang taat pada aturan?……., lebih-lebih soal pajak, baik pajak kendaraan, pajak bangunan dan pajak tontonan. Karena mereka takut yang namanya denda dan dari mana yang uang yang mau dibayar buat denda. Seperti apa yang dikatakan oleh Chairil Anwar bahwa rakyat hanya patuh dan percaya, seperti nenek moyang kita yang tunduk sama yang pegang kuasa (feodal). Tetapi apakah yang pegang kuasaan itu pernah memikirkan rakyatnya yang setia mengabdi?………
Kenyataannya jika dijawab, yang pegang kekuasaan duduk di sebuah pemerintahan yang dikenal dengan penguasa tidaklah lagi memperhatikan nasib rakyatnya yang selama ini diambang kesusahan, jiwa pemimpin sekarang meniru seorang pengemis yang serakah yang selalu tidak puas apa yang diperolehnya. lebih-lebih pemimpin saat ini memakan yang menjadi hak rakyatnya. Maka hal inilah yang menurut saya disebut korupsi. Bicara masalah korupsi sampai saat ini belum bisa bisa diberantas, lebih-lebih korupsi saat ini sedang membudaya.
Di Indonesia seperti yang saya jelaskan sebelumnya merupakan cerita lama yang baru-baru memanas saat ini. Untuk mengkaji tentang kapan sudah ada korupsi? siapakah yang disebut dengan koruptor? Apa saja yang dilakukan koruptor?sampaikapan lagi koruptor itu berhenti? Dan solusi apa?
Apabila menggunakan pendekatan sejarah perekonomian Indonesia. Dalam kehidupan ekonomis bangsa Indonesia diwarnai oleh kehidupan desa. Rumah tangga Indonesia merupakan masyarakat kecil lemah. Warga sering mengingatkan dirinya masing-masing bahwa mereka adalah bagian terkecil yang tidak dapat dipisahkan dari penduduk desa lainnya. Istilah “tolonglah dirimu sendiri” tidak dikenal dalam kehidupan desa Indonesia. Yang ada jika yang satu sakit maka yang lain dapat merasakan sakit semua, jadi nilai-nilai kebersamaan dijungjung tinggi. Bahwa warga desa belum memiliki rangsangan untuk memproduksi melebihi kebutuhan sendiri. (Bachri, 2005). Fikirkan dengan bangsa Indonesia saat ini.
Dalam perkembangannya, desa rumah tangga yang primitive kemudian mendapat pengaruh dari peradaban Hindhuisme yang menempatkan seorang Raja yang berada diatas rumah tangga desa. Perubahannya yang sebelumnya memproduksi untuk kebutuhan sendiri, tetapi dilain pihak harus memenuhi kebutuhan Raja, misalnya membayar Upeti. Seorang raja memiliki hak hidup dan hak milik rakyat.
Pada zaman kerajaan inilah, kerja paksa, serta penyerahan wajib merupakan tulangpunggung golongan yang paling berkuasa. Golongan yang paling berkuasa tidak lain adalah Raja-raja, bangsawan, pemilik modal. Sebagai rakyat kecil hanya bisa menerimah saja. Kadangkala petani hanya bisa menikmati hasil pertaniannya 1/4 saja, kadang tidak mendapatkan sama sekali dan sebaliknya sisa dari hasil pertaniaanya diambil untuk penguasa. Kalau dicermati berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh penguasa. Luar biasa sekali menjadi penguasa.
Sejak datangnya bangsa Barat ke Indonesia, ini malah merubah kebudayaan bangsa Indonesia agar sama dengan bangsa Barat yang sangat individualistic. Bangsa Barat banyak memanfaatkan negeri ini untuk kepentingan mereka yang menyebabkan terjadinya kemiskinan yang berkepanjangan. Menurut Juliantara (1998) kemiskinan bangsa kita adalah kemiskinan yang ada diluar batas nilai-nilai kemanusiaan.prakter kerja paksa yang tidak jarang memakan korban ratusan jiwa, seperti pembangunan jalan dari Anyer sampai Penarukan, praktek Stesel tanam paksa yang amat merugikan dan menguntungkan mereka. Misalnya Belanda, saldo untung dari pemerintah colonial ke negeri Belanda selama 1832-1867 berjumlah f 784 juta ( D.H. Burger dan Prajudi: 1960). Belum lagi untu kepentingan Pegawai Belanda dalam mencukupi kebutuhan hidup sudah melakukan cara korupsi yaitu dengan cara berdagangan di luar perserikatan dagang (VOC) Hal ini belum lagi meminta secara paksa dari hasil kerjanya pada rakyat kecil. Hal ini telah terbukti akhir dari saldo 1799 VOC oleh kerajaan Belanda dinyatakan Pailit dengan saldo kridit sebesar 134,7 Gulden.
Dari beberapa gambaran diatas semakin kuatnya feodalisme dan kepemilikian pribadi walau bukan haknya ini terjadi saat ini menjadi sebuah sumber awal membudayannya korupsi. Menurut Sumardjo (2003), hukum feudal siapa yang meningkat taraf budayanya, maka akan meningkat taraf kekuasaannya dan dengan sendirinya akan meningkat pula penghasilannya. Dalam masyrakat feudal tidak ada Bupati atau sastrawan istana yang miskin. Bahkan dalang istana tentu punya rumah yang lebih bagus, gaji lebih besar dan tanda kehormatan lebih tinggi. kalau saya bilang dari zaman kuno Indonesia sampai berakhirnya bangsa Barat adalah. sebagai bibit lama yang pada ahkirnya melahirkan bibit baru yang lebih unggul dan tertatah rapi. Korupsi pada zaman dulu berupa penyerahan wajib pada penguasa yang secara terang-terangan sedangkan sekarang hanya merupah bolpoin dan kertas yang tinggal merubah angka dan menambahnya, biasanya maraknya dikenal dengan proposal.
Menurut Edwar Aspinall (2000) Thailand atau Korea Selatan sudah masuk kategori Negara korupsi, tetapi jika dibandingkan dengan Indonesia masih kalah jauh. Tetapi Thailand mampu mengentaskannya dari krisis ekonominya. Perlu diketahui bersama di Indonesia para korupsi tersebut banyak yang bertitel atau bergelar Doctor, Profesor, Sarjana atau “babap-bapak yang terhormat”dan lebih parahnya lagi Mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Said Aqil Husein Al Munawar tersangka tindak pidana korupsi. Sangatlah memalukan sekali karena Departemen Agama sebagai corong muralitas bangsa, karena dibungkus oleh nama yang transeden yaitu agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan sinergis antara manusia dengan alam. Jika Departemen Agama sudah melakukan tindak pidana, terus bagaimana dengan Departemen-departemen yang lain yang tentunya tidak berlebel agama. Artinya Islam hanya dijadikan alat legitimasi dan legalitas semata. Bagi dunia pendidikan hanyalah menghasilkan dunia koruptor.
Yang menjadi pertannyaan sekarang adalah kenapa yang banyak melakukan tindak pidana korupsi atau pencurian terhadap uang rakyat adalah orang-orang intelektual yang duduk ditengah-tengah masyarakat? dan hukum tidak berani menindak lanjutinya. kadang mereka mengandalkan uang untuk membayar pengacara handal atau bayar Hakim untuk membayarnya.
Ini sebuah contoh yang sampai saat ini kita selalu mendengarnya dan melihatnya, baik dikehidupan nyata dan surat kabar. Ada seorang anak lulusan SD yang sedang kepergok mengambil HP, karena diketahui oleh warga masyarakat maka anak tersebut babak belur sampai berlumuran darah dan terpaksa harus menekam di tahanan. Sedangkan babak-bapak yang terhormat yang mempunyai gelar berjajar terlibat dalam tindak pidana korupsi yang banyak merugikan Negara dan rakyat miskin , tetapi masih bisa menghirup udara segar dan bisa tersenyum. Kalau misalnya harus terpaksa masuk ke tahanan, maka tahanan itu hanyalah di Ibaratkan pindah rumah yang didalam tahanan tersebut fasilitasnya tidak jauh berbeda dengan dirumahnya sendiri. Tentunya melihat kondisi yang seperti ini terus Negara kita akan menjadi kandang dari mafia koruptor. Mafia akan berakhir jika bos mafianya lenyap.
Bagi para koruptor yang sudah membudaya saat ini bukanlah sebuah dosa besar, tetapi sudah meletakkan perbuatan salah sebagai profesi, pekerjaan, maka bagi mereka pengampunan tidak banyak artinya lagi, bahkan koruptor saat ini sudah memiliki etika (tata aturan dunia koruptor). Misalnya kasus korupsi baru bisa dikatakan mencuat kalau diantara para anggota-anggota koruptor itu terjadi pelanggaran etika koruptor. “maling teriak maling diantara sesame”. Sebab mengaku bersalah di dunia koruptor tidak mungkin ada atau bisa terjadi. Para koruptor juga punyak Undang-undang sendiri, tata nilai dan etikanya sendiri. Jadi kita tidak usa mengadili, karena mereka sudah saling mengadili. Jadi percuma saja mengampuni para koruptor jika mereka masih berada di dunia koruptor dan percuma menuduh seorang koruptor jika merasa dirinnya tidak bersalah.contoh yang paling gampang memnghentikan seorang perokok. Berhenti merokok merupakan kewajiban, karena harus menghentikan ketagihan. Korupsi juga jenis ketagihan dan kenikmatan yang sulit diputus. Sebab saat ini yang mengerakkan manusia adalah uang dan semuanya dapat diperoleh dari uang.
Melihat kondisi yang sudah membudaya seperti ini, apa yang harus kita lakukan, selaku yang sadar dan peduli akan nasib negeri ini dan Perlukah kita menerapkan yang namanya Revolusi dan reformasi. Menurut saya pribadi, rasanya sudah tidak zaman lagi kita menerapkan reformasi, jadi yang perlu kita terapkan adalah Revolusi. Revolusi yang dimaksud bukan revolusi secara total, kalau tidak kita akan mengalami penjajahan lagi. Tentunya yang perlu kita revolusi adalah system negeri ini harus ditata ulang yakni:
pertama: para pemimpinnya. Mind Set mereka selamah ini ternyata membuat hidup bangsa tidak berubah. Yang berubah hanyalah diri mereka sendiri. Karena para pemimpin yang bijaksana dan sejati tidak akan tidur nyenyak kalau pulang dari kantor masih banyak rakyat kecil yang hidupnya susah, pemulung yang berkeliaran, petani yang susah, PSK yang alasannya terhimpit masalah perekonomian dan kesejahteraan, dan lain-lain.
Kedua: system pendidikan kita, yaitu manusia perlu didik menjadi baik dan pendidikan yang lebih baik.format pendidikan yang bernuansa mendidik, mencerahkan dan perpihak tampaknya masih menjadi idola dari sebagian masyarakat Indonesia. Pendidikan selama ini hanya menjadi ajang penindasan dan pembodohan gaya baru yang dibungkus rapi dengan nama sekolah (Setiawan,2006).
Ketiga: orang tua dan lingkungannya, orang tua harus mempunya peran penting untuk memberikan pendidikan dan penanaman kedisiplinan pada anaknya,kadangkala orang tua hanya menitipkan anaknya kesekolah karena orang tuanya tidak ada waktu disebabkan bekerja. Yang ada hanya menanyakan nilanya berapa? Jadi yang dilihat adalah kecerdasan kognitifnya saja, cobalah tekankan nilai-nilai spritual dan kejiwaan. Cobalah jika orang tua selalu mengajarkan anak didiknya untuk disiplin dan selalu mengajarkan arti bangun bagi, beribadah tepat waktu, dan nasehat-nasehat untuk jujur setiap kesempatan, menghormati guru dan orang lain tentunya tidak menyuburkan yang namanya korupsi.

Renungkan budaya untuk masa yang akan datang:
Pertama: budaya Feodal lawan budaya egaliter.
Kedua: budaya instant lawan budaya kerja keras
Ketiga: budaya kulit lawan budaya isi
Keempat: budaya penampilan lawan budaya sederhana
Kelima: budaya boros lawan budaya hemat
Keenam: budaya apati lawan budaya empati
Ketujuh : budaya kompetisi lawan budaya kerja sama.

Published in: on January 24, 2010 at 1:08 pm  Leave a Comment  
Tags:

Merekontruksi Pendidikan Sebagai Bentuk Pendataan Kesadaran

Merekontruksi Pendidikan Sebagai Bentuk Pendataan Kesadaran
Disampaikan dalam acara diklat pecinta alam Ken Arok dan Ken Dedes
MA Darul Latief Ar-Rosyid
Oleh: Miskawi, S.Pd *)

Seperti kita ketahui bersama dan tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa sekolah dalam perjalanannya telah memainkan peran yang sangatlah dominan . Keberhasilan sekolah mengelolah dunia telah mampu untuk menakjubkan, berhasil dan sukses menghegemoni masyarakat untuk dengan sukarela menyerahkan masa depan putra dan putrinya bagi segenap orang tua karena sekolah merupakan tempat “penempatan manusia menjadi manusia”. Jadi tidak salah jika sekolah saat ini menjelma menjadi sebuah kekuatan yang absolute dan mampu menjadi sebuah penguasa yang dominatif terhadap bublik (masyarakat) dan public akhirnya menjadi patuh kepada sekolah.
Keberadaan sekolah ini pada akhirnya memproduksi manusia-manusia elit yang pada akhirnya lambat laun meminggirkan komunitas lain yang tidak berdaya terutama kaum miskin yang tidak mampu melanjutkan putra-putrinya untuk melanjutkan sekolah. Maka kaum miskin saat ini telah menyandang label, bodoh, buta huruf, desa dan terbelakang. Sehingga pelabelan inilah yang saat ini telah menyingkirkan kaum miskin dri dunia pendidikan (sekolah).
Melihat realitas keterpurukan dunia pendidikan kita, hal ini tentunya sangatlah menghawatirkan terhadap masa depan bangsa dan Negara. Tentunya kita tidak bisa berpangku tangan dan diam melihat kenyataan pahit generasi kita ini. Kita harus menyadari ini semuanya kalau tidak kita semua akan dihujat oleh generasi penerus karena membuat peristiwa sejarah yang salah dan mengecewakan para pendahulu yang telah memperjuangkan nasib pendidikan. Salah satunya apa yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini yang baru saja kita memperingatinya tanggal 21 April 2009 sebagai hari Kartini. Usahanya terhadap emansipasi dalam dunia pendidikan khususnya hak bagi perempuan semuanya sama mendapatkan pendidikan. tetapi yang diharapkan oleh R.A kartini dan ini belum pernah diketahui masyarakat bahwa bukan hanyalah emansipasi wanita dalam memperoleh pendidikan, tetapi hak mendapatkan pendidikan bagi kaum miskin yang saat ini tertindas oleh system yang belum pernah berpihak pada masyarakat pada umunya dikarenakan biaya pendidikan mahal. Hal ini tentunya didukung pula dengan dibukanya kelas favorit dan tidak. Kelas favorit ini didukung dengan biaya yang mahal, pengajarnya professional, anak dari keluarga elit. Sehingga sekolah yang tidak favorit dianggap terbelakang dikarenakan sarana dan prasarana yang tidak mendukung dan mayoritas yang menyekolahkan dari kalangan keluarga sederhana dan kurang mampu. Akibat pengkotakan sekolah tersebut, maka kalangan yang menyekolahkan di sekolah tidak terfavorit (sekolah dari kalangan kurang mampu) tersingkirkan dan menerima sebuah kenyataan yang ada, sehingga secara psikologis masyarakat berpengaruh.
Akhir-akhir ini banyak bermacam-macam jenis dana yang mengalir pada sebagaian sekolah di Indonesia. Namun setelah dana dikucurkan sedemikian besar, mengapa mutu pendidikan masih begini-begini saja. Dana yang diperuntukkan bagi sekolah sangat banyak sekali , yaitu dana peningkatan kegiatan belajar-mengajar (KBM), misalnya BOMM(bantuan operasinal peningkatan mutu), DAU (dana alokasi umum), JPS (dana jaringan pengamanan social), DBO (dana bantuan oprasional), BKM (bantuan khusus murid) dan BKS (bantuan khusus sekolah). Sekolah mendapatkan keleluasaan dalam penggunaan dana-dana tersebut. Cuman yang disayangkan, sekolah cenderung memanfaatkan dana-dana tersebut untuk sarana fisik, misalnya perbaikan bangunan sehingga pendidikan saat ini perlu adanya kesadara bahwa jagan pernah melupakan dan melalaikan upaya peningkatan mutu KBM dan SDM.
Seiring dengan diberlakukannya Undang-undang Dasar yang telah mengamanatkan pendidikan dialokasikan sebesar 20% dari APBN, yang menjadi pertanyaan kita semuanya apakah semuanya terialisasi? Biarkan masyarakat yang berbicara, karena masyarakat yang mengetahui hasil dari diberlakukannya UUD apakah sudah dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
Semuanya ini bukan mengada-ngada, tapi inilah potret pendidikan saat ini. nyatanya masih banyak kalangan yang belum tersentuh. Coba kita liat realita nyata disetiap lampu lalu lintas masih banyak anak dibawah umur 12 tahun tidak sekolah, tidak bisa ikut ujian dikarenakan tidak mampu membayar SPP atau uang pembangunan. Saya bisa menyimpulkan inilah swastanisasi sekolah yang tidak jauh berbeda pada masa orde baru.
Diera Orde baru, ideology pembangunan (Developmentalism) telah membawa kegagalan dunia pendidikan atau persekolahan kita. Dimana sekolah dijadikan mesin produksi negara guna mencetak manusia untuk memenuhi tuntutan pasar. Sehingga tidak salah jika pendidikan akhirnya melahirkan watak-watak koruptor yang bersandang Sarjana, magister, doctor dan Profesor yang diperoleh lewat jalur pendidikan. Apalagi pendidikan kita ini nampaknya tidak menjadi focus perhatian pemerintah. Pemerintah lebih focus pada bagaimana mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak melakukan langkah pemerataan setiap warga Negara. Kalau pemerintah sadar bahwa rakyat sebagai aset pembangunan bangsa, maka pendidikan untuk setiap warga Negara menjadi perioritas utama.
Sebenarnya, merekontruksi ini tidak lain sebagai bentuk pendataan kesadaran kita semuanya, agar pendidikan saat ini menjadi lebih baik karena kita tidak bisa mengatakan kondisi pendidikan ini baik dengan bantuan anggaran 20% dari APBN. Kita semuanya butuh bukti yang sifatnya nampak bukanlah remang-remang lagi.
Marilah kita berfikir baik pembuat kebijakan, penerima kebijakan, untuk saatnya membuka diri demi bangsa tercinta ini terutama dibidang pendidikan. Jadikan pendidikan saat ini menjadi pendidikan yang merdeka dan membebaskan. Karena merdeka dan membebaskan merupakan sebuah roh bagi pendidikan itu sendiri.
Maksudnya pendidikan yang bebas dan merdeka disini adalah yang pertama: manusia mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan dan hak berekspresi dari apa yang telah didapatkan dari pendidikan, jadi maksudnya mereka harus bebas , tidak ada diskriminasi hanya karena latarbelakang fisiknya, setatus ekonominya, budayanya dan lain-lain. Sehingga mereka mendapatkan perlakukaan yang sama terhadap pendidikan.
yang kedua: jangan pasung kebebasan berfikir. Karena kebebasan berfikir tidak sama dengan kebebasan berbuat. Orang tidak bisa berbuat tapi orang harus berfikir bebas.
Ketiga: bebas pembagian kelas antara yang kaya(mampu) dan yang miskin(tidak mampu) dan yang penting lagi bebaskan pendidikan dari dominasi birokrasi politik, kalau tidak sekolah akan hancur keberadaannya. Yang menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semuanya, strategi apa yang digunakan sehingga pendidikan tidak menutup mata bagi si miskin. Padahal pendidikan hak bagi semua manusia, tidak memandang miskin dan kaya semuanya mendapatkan hak yang sama. Karena dalam kontek ini, tidak ada manusia yang dibatasi oleh siapapun untuk mendapatkan pendidikan.

Published in: on January 24, 2010 at 1:07 pm  Leave a Comment  
Tags:

Marginalisasi Sebagai Bentuk Gerakan Feminisme dan Emansipasi Wanita

Marginalisasi Sebagai Bentuk Gerakan Feminisme dan Emansipasi Wanita

Miskawi1

Abstrak: Tujuan pengkajian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang bentuk sebuah gerakan wanita Indonesia sebagai dampak dari gerakan feminisme Barat. Pengkajian ini menggunakan pendekatan teoritis. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa gerakan yang terjadi di Indonesai walaupun sebagai dampak dari gerakan feminisme barat tetapi dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari budaya, norma, agama yang mengatur kehidupan masyarakat Indonesia yang menekankan kepada keluhuran budi dan keseimbangan kehidupan dalam berbagai hal. Bagi bangsa Indonesia pria dan wanita memang harus diakui sebagai dua jenis manusia yang berbeda secara kodrati tetapi keduanya saling melengkapi.

Kata kunci: Marginalisasi, feminisme, emansipasi, wanita

Kajian wanita selalu menjadi perdebatan yang cukup panjang, hal ini tentunya didasari karena wanita ditempatkan sebagai “ The Second sex” (T.O. Ihrowi, 1995). Bahkan wanita menjadi mitos dan kepercayaan bahwa wanita berada diposisi rendah dari pada laki-laki, bahkan wanita dipandang dari segi seks bukan dari segi kemampuan, kesempatan dan aspek-aspek manusiawi secara universal yaitu sebgai manusia yang berakal, bernalar dan berperasaan. Ada juga kelompok-kelompok tertentu yang menganggap wanita sebagai mahluk yang kotor, hina dan jahat (Abdullah AD, 1996). Sehingga keberadaan wanita sudah menjadi kodrat atau ketentuhan tuhan yang tidak bisa berubah dan pada akhirnya diterimah oleh masyarakat umum. Hal ini tidak jauh berbeda cara berfikir masyarakat yunani zaman kuno bahwa Sesuatu yang terjadi karena takdir (hukum fatum).
Lebih parahnya lagi dalam kajian-kajian wanita tidak jarang pada akhirnya menjerumus pada perdapatan sengit yang saling menjelekkan dan mengunggulkan kelompoknya yang kadangkala digunakan berbagai teori dan bahkan ayat-ayat ajaran agama secara sepihak, sehingga menghasilkan sebuah sudut pandang yang berbeda tanpa melalui proses berfikir kritis analisis.
Berbagai factor diatas menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidakadilan bagi wanita. Bentuk manifestasi dari ketidakseimbangan dan ketidakadilan wanita merupakan proses marginalisasi terhadap wanita itu sendiri. Akan tetapi, berbagai pandangan diatas mempengaruhi perkembangan emosi, visi dan ideology kaum wanita untuk memperjuangkan nasibnya agar memperoleh kesejajaran dengan pria dan juga dapat menghilangkan steriotip yang sudah diterimah oleh masyarakat sebagai sebuah kodrat yang tidak bisa dirubah.
Upaya untuk merubah hal tersebut tercermin dalam gerakan-gerakan feminisme, emansipasi dan hak asasi manusia. Hal ini terbukti dengan adanya gerakan wanita yang terdapat di dunia barat. Kemudian gerakan ini lebih popular disebut feminisme. Pada akhirnya gerakan ini mempengaruhi seluruh wanita didunia,termasuk wanita Indonesia yang saat ini termarginalkan.
Atas dasar inilah, kajian ini akan mengungkap secara sepintas mengenai perjuangan kebebasan dan emansipasi wanita sebagai bentuk dari marginalisasi wanita. Tujuannya agar dapat memperoleh gambaran bentuk sebuah gerakan wanita Indonesia sebagai dampak dari gerakan feminisme barat.

Marginalisasi Wanita
Sebelum membahas perjuangan kebebasan dan emansipasi wanita, maka terlebih dahulu akan dikaji tentang marginalisasi wanita, karena marginalisasi ini yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan wanita sehingga bentuk implemantasinya menimbulkan sebuah gerakan.
Sebenarnya sudah banyak tulisan mengenai marginalisasi akan tetapi didalamya masih banyak kerancuan, misalnya marginalisasi diartikan sebagai proses pengucilan. Ketika melihat gambaran ini, sangat deskriptif sekali, sehingga perlu penekanan kembali ketika melihat marginalisasi diperlukan sebuah kritis analisis agar bisa di mengerti dan dipahami apa sebenarnya marginalisasi. Maka seharusnya yang perlu diperjelas dan dipertanyakan kembali mengapa marginalisasi wanita itu bisa terjadi. untuk memperjelas mengapa marginalisasi itu bisa terjadi, maka perlu diberikan gambaran walau tidak secara komprehensif akan tetapi dengan ini bisa dimengerti bentuk dari pembelaannya.
Pada prinsipnya marginalisasi terhadap wanita dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin yaitu antara laki-laki dan wanita yang merupakan hasil pengkotakan yang dilakukan oleh anggota masyarakat serta dukungan oleh nilai-nilai tertentu terutama dalam diskriminasi upah, perbedaan kesempatan kerja, dan akses pendidikan.
Apabila ditinjau dari kegiatan kerja wanita (reproduktif/domestic/bukan upahan) yang selama ini tidak pernah diakui. Contoh: manakalah kita mendatangi seorang ibu yang sedang mengendong anaknya sambil menyapu rumah atau mencuci baju dan menanyakan padanya apakah ia bekerja atau tidak, maka jawabanya ia tidak bekerja. Demikian pula ketika melihat seorang ibu sedang duduk dilantai rumahnya sambil menganyam tikar untuk dijual dan mencoba menanyakan pada tetangganya maka jawabannya sedang mengisi kekosongan atau kerja sambilan. Apabila dianalisis, kerja upahan wanita dianggap sebagai sampingan dan pada gilirannya akan mengakibatkan pada pengecilan kerjanya.
Marginalisasi juga dipengaruhi oleh pandangan masyarakat, Dalam masyarakat Jawa misalnya, steriotip negatif pada wanita dapat dilihat pada ungkapan ”swarga nunut neraka katut dan kanca wingking”, karena nasib wanita sangat tergantung pada suami, maka kedudukan wanita dipandang lebih rendah. Peranannya dibatasi pada tugas-tugas domestik yaitu sekitar sumur, dapur, dan kasur. Perenanan yang demikian dianggap sebagai peranan yang ideal bagi seorang wanita. Pandangan demikian masih berakar kuat pada sebagian masyarakat jawa. Hal ini menyebabkan penolakan terhadap steriotip negatif tersebut terus berlangsung seiring dengan meningkatkanya emansipatoris (Shuhardati dan Sofyan, 2001:137-139).
Sudut pandang agama juga mempengaruhi marginalisasi wanita, misalnya: 1) agama yahudi, pandangan agama yahudi sangat merendahkan wanita terutama wanita dipandang sebagai mahluk terkutuk karena telah menggoda Adam untuk makan buah kuldi yangmengakibatkan mereka keluar dari surga, selama masih ada saudara laki-laki wanita tidak boleh mendapatkan warisan oleh orangtuanya dan seorang istri yang ditinggal suaminya otomatis berpindah tangan kepada saudara laki-laki suaminya.2) agama Nasrani, tidak jauh berbeda dengan agama Yahudi bahwa tugas wanita lebih ditekankan kepada melayani laki-laki. 3) agama Hindu, tabiat wanita selalu menggoda laki-laki, seorang wanita diijinkan berbuat serong kalau suami merantau dari enam bulan, 4) agama Islam, pandangan ini berbeda denga agama lain, karena telah menegakkan kesetaraan setatus antara wanita dan laki-laki, bahkan dalam posisi tertentu lebih unggul wanita. Hal ini terbukti dengang sebutan “ surga ditelapak kaki ibu” meskipun demikian secara kontekstual Islam mengatakan tentang kelebihan kaum laki-laki dan memberikan setatus yang lebih unggul dalam pengertian normative, sehingga memiliki hak mengatur dan mengendalikan wanita.

Gerakan Femenisme
Dengan melihat kedudukan wanita yang jauh berbeda dengan laki-laki, maka wanita berusaha untuk memperjuangkan kebebasanya. Upaya perjuang kebebasan dalam bangsa Indonesia sering dikenal dengan sebutan emansipasi wanita sedangkan bangsa barat dikenal dengan feminisme. sebenarnya emansipasi wanita yang terjadi di Indonesia dilatarbelakngi adanya gerakan feminisme yang terjadi dibarat terhadap dominasi laki-laki sehingga tujuan dan tuntutannya senantiasa mengalami perkembangana seiring dengan kemajuan dan tuntutan jaman. Dalam gerakan tersebut pada dasarnya para feminis memeliki kesadaran yang sama, yaitu mengenai ketidakadilan gender terhadap wanita baik didalam keluarga maupun masyarakat, Namun diantara mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai penyebab terjadinya ketidakadilan tersebut dan bentuk serta target yang hendak dicapai dari perjuanga mereka.
Wujud dari gerakan femenisme terbagi menjadi tiga golongan besar yaitu femenisme radikal, femenisme liberal dan femenisme sosialis. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan dibawah ini, sehingga dapat dijadikan gambaran tentang emansipasi wanita di Indonesia.
1.Feminisme Radikal
Aliran ini berpendapat bahwa struktur masyarakat dilandaskan pada hubungan herarkis berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin berpengaruh dalam menentukan posisi social, pengalaman hidup, kondisi fisik dan psikologis serta kepentingan dan nilai-nilainya. Menurut aliran ini, Laki-laki sebagai suatu katagori social mendominasi kaum wanita sebagaim katagori social yang lain karena kaum laki-laki diuntungkan dengan adanya subordinasi wanita.
Maksud gambaran diatas, karena dominasi laki-laki tidak hanya terdapat diarena public, tetapi juga diarena kehidupan yang sangat pribadi. Maka, perjuangan wanita untuk menghapus subordinasi tidak hanya diluar rumah, tetapi justru dimulai didalam rumah. Jadi, misalnya persoalan “siapa yang melakukan kerja rumah tangga, atau siapa yang menginterupsi siapa dalam pembicaraan sehari-hari” dilihat sebagai bagian dari system dominasi laki-laki.
Jadi, kaum feminisme radikal menyoroti pembagian kerja secara seksual yang menganut system patriarchal (adanya dominasi laki-laki) dengan demikian aliran ini berupaya untuk menghancurkan patriarchal.
Langkah yang ditempuh untuk memperjuangkan kebebasan wanita bukan hanya menghapus hak-hak istemewah laki-laki saja. Melainkan menghapus perbedaan seksual itu sendiri dalam maknanya secara cultural. Sebagaimana dikatakan, patriarki tidak hanya memaksa wanita menjadi ibu, tetapi juga menentukan pula kondisi keibuannya. Sehingga dalam hal ini, proses melahirkan anak, katergantungan anak terhadap ibunya dan sebaliknya dan pembagian kerja seksual harus diganti dengan mencara jalan keluar yang pada intinya tidak terlalu memberatkan wanita. Sehingga dengan kata lain, tirani keluarga biologis harus dipatahkan. Jadi sangat tidak salah jika feminisme radikan dikatakan gerakan yang paling ekstrim.

2.Femenisme Liberal
Femenisme ini berdasarkan pada liberalisme yaitu suatu paham yang merngutamakan kebebasan individu. Maksud pandangan ini, bahwa setiap laki-laki ataupun wanita mempunyai hak mengembangkan kemampuan dan rasionalitas secara optimal sebagai pangkal dan pokok kebaikan hidup yang pada prinsipnya tidak ada sebuah diskriminasi terutama pada perbedaan biologis.
Contoh perbedaan biologis yang dimaksud sebenarnya tidak asing dan menjadi populer bagi setiap masyarakat yang dikenal dengan maskulinitas dan femininitas. Maskulinitas merupakan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki terutama selalu agresivitas, keberaniaan, kepemimpinan dan kekuatan fisik, sedangkan femininitas yaitu ciri-ciri yang harus di miliki oleh seorang wanita misalnya kelemahlembutan, keengganan untuk menampilkan diri dan kehalusan.
Melihat gambaran diatas, maka yang dilakukan sebagai wujud dari sebuah gerakannya yaitu menghapus diskriminasi dan ketimpangan social. Karena inti dari diskriminasi ini terletak pada prasangka yang terdapat dari kalangan laki-laki sehingga wanita harus sadar menuntut hak-haknya agar menyadarkan kaum laki-laki tentang kedudukannya dengan cara mensosialisasikannya kembali dan mampu membongkar ketersembunyian serta ketidaknampakan wanita yang selama ini ada.
Langkah yang ditempuh untuk memperjuangkan dengan cara memberikan kesempatan kepada wanita yang luas terutama dalam bidang pendidikan dan ekonomi agar mampu bersaing dengan laki-laki sehingga mampu mengubah nilai-nilai tradisional untuk memasuki tingkat kehidupan yang lebih baik.

3. Feminisme Sosialis
Aliran femenisme sosialis merupakan sentesis dan femenisme radikal. Anggapan dari aliran ini bahwa hidup dalam masyarakat kapitalis bukan merupakan satu-satunya penyebab keterbelakangan wanita karena dinegara non kapitalis wanita juga hidup dalam lingkungan system parriarki, sehingga penindasan wanita sebenarnya ada dikelas manapun. Aliran ini mengkritik anggapan yang mengatakan bahwa ada hubungan antara partisipasi wanita dalam produksi dengan status wanita, karena keterlibatan dalam dalam bidang produksi kenyataannnya justru menjerumuskan wanita yaitu dijadikan budak. Oleh karena itu, kritik terhadap kapitalisme harus disertai kritik terhadap dominasi laki-laki.
Aliran ini lebih menfokuskan pada upaya penyadaran kaun wanita akan posisinya yang tertindas, sehingga akan bangkit emosinya dan secara bersama-sama menentang kelompok laki-laki. Lebih lanjut akan dapat meruntuhkan patriarkhi.

Emansipasi Wanita di Indonesia
Gerakan femenisme dan emansipasi wanita di Indonesia telah dirintis oleh RA Kartini. Bentuk dari perjuangannya dalam mendobrak kekangan terhadap kaum laki-laki dengan menggugah aspirasi pendidikan kaum wanita itu sendiri. Akan tetapi bentuk perjuangan RA Kartini pada waktu itu hanya terbatas pada perjuangan persamaan hak dalam bidang pendidikan.
Perjuangan dalam bidang pendidikan hanya dibatasi pendidikan untuk menjadi istri dan ibu yang lebih dipersiapkan untuk melaksanakan tugasnya sebagi suatu kelompok elit Indonesia. Dengan demikian perjuangan emansipasi RA Kartini bukanlah emansipasi atau kebebasan wanita yang kita saksikan saat ini. Meskipun pada awalnya hanya merupakan tuntutan persamaan hak dalam bidang pendidikan, namun dalam perkembangannya tuntutan persamaan hak tersebut menjalar keberbagai bidang kehidupan.
Perjuangan yang dilakukan oleh RA Kartini tampak membawa hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terbukti dalam masyarakat Indonesia wanita bukan lagi konco wingking yang hanya bekerja di sector domestic. Kedudukan wanita seolah-olah tampak hampir tidak ada lagi perbedaannya dengan laki-laki dalam segala bidang kehidupan. Jadi keberadaan wanita dan laki-laki telah sejajar dan mampu duduk bersaing.
Keberadaan wanita diluar sector domistik (sector public) sebenarnya telah menempatkan wanita dalam peran ganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kecendrungan wanita Indonesia yang bekerja diluar sector domistik karena dorongan ekonomi ( Fauzie Ridjal, 1993). Mereka bekerja karena terdorong mencari nafkah sebagai akibat persaingan hidup yang semakin ketat. Mereka baik laki-laki maupun wanita berlomba-lomba menambah ilmu yang bisa mendorong kariernya lebih sukses sehingga lebih memudahkan mereka mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya (Abdullah AD, !996). Akibatnya suami istri lebih banyak berada diluar rumah dibandingkan didalam rumah. sehingga rumah sebagai tempat peristirahatan. Kondisi ini juga berdampak terhadap kehidupan rumahtangga, baik pada suami, istri dan anak-anaknya. Bahkan juga tidak menutup kemungkinan kalau penyebab wanita karier yang telah berumah tangga memiliki PIL (Pria Idaman Lain). Dengan demikian perjuangan persamaan derajat wanita Indonesia agar setara dengan laki-laki pada akhirnya akan memperberat peran wanita.
Dengan melihat motivasi wanita bekerja diluar sector domistik adalah karena factor ekonomi, maka hal inilah sebenarnya memperberat dan merendahkan kedudukan wanita karena seolah-olah wanita dieksploitasi oleh laki-laki untuk bekrja keras membantu mencari nafka yang sebenarnya menjadi tanggungjawab laki-laki. Beberapa kasus menunjukkan bahwa dalam kehidupan keluarga yang kurang mampu wanita sering dipaksa untuk memecahkan maslah ekonomi keluarga dengan berbagai cara sehingga kadangkala wanita berani menjual satu-satunya harta yang mereka miliki yaitu kehormatan seksualnya (Lukman Sutrisno, dalam Fauzie Ridjal , 1993).
Diera globalisasi ini gerakan femenisme barat juga berpengaruh di Indonesia. Tuntutan femenisme barat adalah kebebasan wanita dari ikatan budaya yang didominasi oleh laki-laki. Hal ini secara bertahap pasti masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak wanita terutama wanita karier merasa tersiksa dengan dominasi suami sebagai kepala rumah tangga, karena telah merasa memiliki pendapatan sendiriyang kadangkala jauh lebih besar daripada pendapatan suami. Dengan dasar inilah mereka berusaha mencari kebebasan dari luar rumah ternasuk kebebasan seks.
Dengan melihat kecendrungan tersebut tidak menutup kemungkinan feminisme radikal akan masuk keIndonesia dimana mereka menuntut kedudukan yang sama antara laki-laki dan wanita. Hal ini tentunya akan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, mengingat kehidupan masyarakat Indonesia terikat oleh berbagai norma dan bahkan terikat dalam aturan budaya dan agama yang menempatkan wanita sebagai ibu rumah tangga yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga (domistic domain).

Kesimpulan
Gerakan femenisme memang perlu bagi wanita Indonesia, akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari budaya, norma, agama yang mengatur kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat barat yang materialisme akan tetapi masyarakat yang menekankan kepada keluhuran budi dan keseimbangan kehidupan dalam berbagai hal. Bagi bangsa Indonesia pria dan wanita memang hrus diakuai sebagai dua jenis manusia yang berbeda secara kodrati tetapi keduanya saling melengkapi. Oleh karena itu, laki –laki dan wanita haus berpasanga-pasangan demi kebahagiaan dan mewujudkan harmoni.

Daftar Pustaka
Abdullah AD. 1996. Dilemma Wanita Karier. Yogyakarta: Ababil
Baso, Zohra Andi. 2000. Angka Wanita Menuju Tegaknya Hak-Hak Konsumen. Makasar: YLK.
Ibrahim, Idi Subandi (ed) 1998. Wanita dan Media. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Ihromi, TO. 1995. Kajian Wanita Dalam Pembangunan. Jakarta: Yayasan Obor.
Ilyas, H. Yunahar. 1998. Feminisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ridjal, fauzie (ed). 1993. Dinamika Gerakan Wanita di Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Susanto, Budi (ed) 1996. Citra Wanita dan Kekuasaan. Yogyakarta: Kanisius.

miskawi adalah dosen pada Univrsitas 17 agustus 1945 banyuwangi, Masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) komisariat Banyuwangi, Kepala sekolah MA Darul Latief Ar Rosiyd, Pengajar Primagama, Pengajar MTS Darun najah, Pembina Teater

Published in: on January 24, 2010 at 1:04 pm  Leave a Comment  
Tags:

filsafat sejarah

oleh : Miskawi*
BAB 1
FILSAFAT

1.Definisi Filsafat
Ada banyak orang berkata bahwa orang harus berfilsafat, tapi kadangkala orang sering kali belum tentu mengerti apa sebenarnya filsafat ? bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan awal yang harus dipahami manakalah ingin mengerti apa sebenarnya ilmu filsafat. Dibawah ini saya akan memberikan gambaran lebih rinci agar mudah memahami manakalah ingin belajar apa sebenarnya ilmu filsafat tersebut.
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
a.Segi logatnya: filsafat berasal dari bahasa Arab “falsafah” yang bersal dari bahasa Yunani “philosopia”. Dalam bahasa yunani kata philosopia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata Philos dan Sophia. Philos artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya. Berarti menginginkan sesuatu, karena menginginkan sesuatu, maka keinginan tersebut harus dicapai sampai terpenuhi. Sedangkan Sofia artinya kebijaksanaan atau cinta kebenaran. Kebijaksanaan ini pun kata asing, adapun artinya yaitu pandai: mengerti dengan mendalam.
Jadi apabila definisi diatas ditarik batasan artinya adalah ingin mengerti dengan mendalam atau cinta akan kebijaksanaan.
b.Segi praktinya: dilihat dari segi pengertian praktis, filsafat berarti alam pikiran alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir. Namun tidak semua berfikir dikataka berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.(Ahmadi, 1982:9).
Jadi, Tidak semua berfikir dapat dikatagorikan berfikir. Berfikir dikatagorikan berfilsafat apabila berfikir tersebut mengandung tiga ciri pokok yaitu: berfikir radikal, berfikir universal dan berfikir sistematis.
Berfikir radikal yaitu berfikir sampai keakar-akarnya, tidak tanggung-tanggung sampai pada konsekkuensi yang terakhir.bisa juga dikatakan berfikir tidak separuh-paruh, tidak berhenti dijalan, tatapi terus sampai pada tujuannya.
Berfikir sistematis adalah berfikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggungjawab dan saling hubungan yang teratur.dan,
Berfikir universal adalah tidak berfikir khusus, yang hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi mencakup sebuah permasalahan secara keseluruhan.
Tegasnya: berfilsafat adalah berfikir dengan sadar, yang mengandung pengertian secara teliti dan teratur, sesuai dengan aturan dan hukum-hukum berfikir yang teratur. Berfikir filosofi harus dapat menyerap secara keseluruhan apa yang ada pada alam semesta, tidak sepotong-potong.
Jadi, filsafat adalah hasil akal seseorang manusia yang mencari dan memikirkan dengan sedalam-dalamnya tentang suatu kebenaran. Atau dengan kata lain kegiatan berfikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijaksanaan dan kearifan.

1.1 Beberapa definisi menurut ahli filsafat
Karena luasnya lingkungan ilmu berfilsafat, yang jelas para ahli filsuf memberikan pengertian yang berbeda mengenai definisinya.
1.Plato (475-347SM) ia seorang filsuf yunani yang termasyur murid Socrates dan guru aristoteles. Ia mengatakan bahwa filsafata dalah pengetahuan tentang segala yang ada” ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenarann yang asli.
2.Aristoteles (382 SM-332 SM) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergantung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika ( filsafat adalah menyelidi segala seabab benda dan asas benda).
3.Marcus Tullius Ceciro (106 SM-43 SM). Politikus dan pidato romawi, merumuskan filsafata adalah pengetahuan tentang sesuatu yanga maha agung dan usaha untuk mencapainya.
4.Al-farabi (wafat 950 M). filosuf muslim terbesar sebelum ibnu sina mengatakan : filsafata adalah ilmu pengetahuan tentang alam maha ujud dan bertujuan menyelidiki hakekata yang sebenarnya.
5.Imanuel Khant (1724 M- 1804 M). yang disebut sebagai raksasa pikir barat, mengatakan bahwa: filsafat itu ilmu pokok segala pangkal dan pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan yaitu: apakah yang dapat kita ketahua?, (dijawab oleh metafisika). Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh Etika). Sampai dimaka pengharapan kita? (dijawab oleh agama). Apakah yang dinamakan oleh manusia ? (dijawab oleh antropologi).
6.Prof.Dr.Faud Hasan, guru besar psikologi UI,menyimpulkan : Filsafat ialah suatu ihktiar untuk berfikir radial, artinya mulai dari radixnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan . dan dengan jalan penjajagan yang radial itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan atau yang universal.
7.Drs, H,Hasbulah Bakri merumuskan, ilmu filsafat ialah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan,alam semesta dan manusia,sehinga dapat menghasilkan pngetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat capai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

1. 2. Manfaat Filsafat
1)Menurut Harold H. Titus, Filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah control dan tujuan senia adalah kreaktifitas, bentuk keindahan dan ekspresi. Maka, tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan.
2)Menurut Dr. Omar A. Hoesin bahwa filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahua yang tersusun dengan terteb akan kebenaran.
3)Menurut S. Takdir Alisyabana bahwa filsafat dapat memberikan ketenangan fikiran dan kemantapan hati, meskipun sekalipun maut. Dalam tujuannya yang tunggal ( yaitu kebenaran) itulah letak kebesarannya, kemuliaan. Kebenaran disini dalam arti yang sebenar-benarnya dan seluas-luas baginya itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
4)Menurut radhakrishnan tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semnagat masa dimasa hidup melainkan membimbing maju. Funsi filsafat adalah rekreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan tujuan yang baru.
5)Beberapa pendapat diatas sangatlah berbeda dengan Soemadi Soerjabrata, mempelajari filsafat adalah mempertajam pikiran. Dimana berfilsafat tidak hanya sekedar mengetahui, melainkan harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang mengaharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan yang membutuhkan hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup bahagia dan baik.
6)Plato bahwa ia merasakan berfikir dan memikirkan itu sebagai suatu nikmat yang luar biasa sehingga diberi peredikat sebagai keinginan yang maha berharga.
7)Rene Descartes. Sebagai pelopor filsafat modern dan pelopor pembaharuan dalam abad ke 17 yang terkenal dengan ucapan “cegito ergo sum” (karena berfikir, maka asaya ada) sebagai landasan filsafatnya. Berfilsafat berarti berpangkal pada sesuatu kebenaran yang fundamental atau pengalaman yang asasi.
8)Prof. Dr. N. Driyakara S.J. filsafat adalah pikiran manusia yang radikal, dengan menyampaikan pendapat dan pendirian-pendirian yang diterima saja dengan mencoba memperlihatkan pandangan yang nmerupakan akar dari lain-lain pandangan dan sikap praktis.” Pandangan diarahkan kepada sebab-sebab yang terakhir atau sebab pertama (filsafat causis), dan tidak diarahka kepada yang terdekat (secundari causis). Sepanjang kemungkinan yang ada pada budi nurani manusia sesuai kemmampuannya.
9)Afred Nort Withchead filsafata adalah keinsafan dan pandangaan jauh kedepan dan suatu kesadaran akan hidup. Pendeknya, kesadaran dan kepentingan yang memberi semagat kepada seluruh usaha peradaban manusia”
10)Maurice Marieau Ponty (seoarbg tokoh filsafat modern excistencialisme). Jasa dari filsafat itu terletak dalam sumber penyelidikannya, sumber itu adalah eksistensi dan dengan sumber itu kita bias berfikir tentang manusia”.
11)Gabriel Marcell (excistencialisme) hakekatnya manusia itu terletak dalam hasratnya untuk berkomunikasi untuk bersatu dengan Person atau pribadi lain dengan penuh kepercayaan . dan itu hanya mungkin karena hasrat manusia untuk percaya kepada toi absolu, kepada dikau yang mutlak yautu tuhan sendiri”.

1.3 Tujuan Filsafat
Setelah penelusuran itu, kita dapat menyimpulkan 4 tujuan umum pelajaran filsafat yaitu:
1.dengan berfilsafat kita dapat memanusiakan diri, lebih mendidik dan membangun diri sendiri.
2.dapat mempertahankan sifat yang objektif dan mendasarkan pendapat pengetahuan yang objektif, tidak hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan simpati dan antipati saja.
3.mengajar dan melatih kita memandang dengan luas. Jadi, meneyembuhkan kita dari kepicikan, dari Aku isme dan aku sent isme, hanya mementingkan Aku hanya saja, yang dapat merugikan perkembangan manusia seutuhnya.
4.Dengan pelajaran filsafat, kita diharafkan menjadi orag yang dapat berfikir sendiri, tidak menjadi yes man atau yes woman . kita harus menjadi orang yang sungguh sungguh mandiri, terutama dalam lapangan kerohanian dan menyempurnakan cara kita berfikir, dan memiliki sifat kritis. Disinilah pentingnya pelajaran filsafat logika.
Filsafat dengan fungsinya sebagai mater scientiarum (induk ilmu pengetahuan( bearti mencakup semua ilmu pengetahuan khusus. Filsafat sebagai pengangan manusia pada masa itu,dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Dengan menguasai filsafat zaman itu(sebelum masehi), dapatlah seorang ahli menjawab segala permasalahan didunia ini, baik masalah manusia sendiri,alamnya,mauupun Tuhanya.
Dalam perkembangan selanjutnya, sejalan dengan perkembangan zaman, meningkatnya kebutuhan hidup manusia, dan berkembangnya kehidupan modern maka semakin terasalah kebutuhan untuk menjawab segala tantangan manusia yang ada. Dalam keadaan yang demikian, lahirlah ilmu-ilmu pengetahuan khusus. Momentum pemisahan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan khusus bermula sekitar abad pertenghan. Pada saat lahirnya zaman renaissance (misl ilmu fisika dan matematika).
Beralih kepada bentuk pengetahuan yang lain, yaitu pengetahuan ilmu (ilmu Pengetahuan). Ilmu pengetahuan bertujuan membantu manusia mempermuda pelaksanaan kehidupannya atau untuk mensejahterakan manusia. Disegi lain, dapat pula bertujuan menyusahkan atau menghancurkan manusia apabila ilmu dan teknologi itu dipergunakan untuk tujuan perang dan menciptakan senjata mutakhir. Contoh : perang dunia ke 2 berakhir dengan penciptaan Bom atom oleh E. Enstein yang di jatuhkan di Hirosima (6 agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945).

Bab 2.
Dasar-Dasar Epistemologi
Filsafat Dengan Ilmu Pengetahuan

Episteme berarti pengetahuan. Epistimologi adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai pengetahuan. Sebagai cabang filsafat, epistimologi mempelajari dan mencoba menentukan hakikat dan skope pengetahuan, pengandaia-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. pertanyaan-pertanyaan itu antara lain:
1.apakah itu pengetahuan?
2.dimanakah penegtahuan umum ditemukan?
3.sejauh manakah apa yang biasanya kita anggap sebagai pengetahuan yang benar-benar merupakan pengetahuan?
4.apakah indra memberikan pengetahuan/
5.dapatkah budi memberi pengetahuan/
6. apakah hubungan antara pengatahuan dan keyakinan yang benar?

Awalnya filsafat itu timbul adanya kekaguman terhadap pengalaman biasa, harian yang menyebabkan seseorang terdorong untuk menyelidikinya. Maka awal epistemology adalah kekaguman terhadap pengetahuan. Kekaguman tersebut menjadi begitu nyata kalau “commond sense” ( angapan umum/akal sehat) dipertentangkan dengan sains. Karena kemajuan sains yang hasilnya sangat mengesankan, banyak orang yang berpendapat bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan adalah sains, sedangkan ‘commond sense” harus menyesuaikan diri denganya. Kadang-kadang anggapan itu sampai pada keyakinan bahwa “commond sense” bertolak dari kesan, sedangkan sains bertolak dari kenyataan sebagaimana adanya.
Namun pikiran selalu berusaha mengekpresikan diri dengan dasar-dasar kepastian yang kokoh, berarti pengetahuan berkaitan dengan erat dengan ekpresi. “ pengetahuan “ mengekpresikan pengalamanya sendiri, bukan sekedar mengalami. Sedangkan bentuk pokok ekspresi adalah pertimbangan (judgment). Untuk itu epistemology berusaha memperhatikan dasar pertimbangan yaitu. hakikatnya jangkauan dan asal evidensi yang mendukung kepastian. Sebab perhatian utama pemgetahuan adalah mencari kepastian yang tak tergoyahkan.
Di dalam upayanya untuk mendapatkan kepastian tersebut. Descartes melalui keraguan metodis universal menemukan bahwa dasar terkokoh adalah “COGITO, ERGO SUM” ( saya piker, berarti saya ada ). Tetapi karena ‘cogito’merupakan kegiatan spiritual maka dia membedakan dua jenis subtansi, yaitu subtansi spiritual (res cogitans) dan subtansi material (res extensa). Namun dikotomi tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah pikiran bisa keluar dari dirinya dan menjangkau hal-hal diluar dirinya?
Pemisahan secara tegas antara pikiran dan benda material memustahilkan pengetahuan, kerena terjadinya pengetahunjustru dikarenakan menyatunya dua unsure tersebut. Maka banyak filsuf(skolastik, fenomenolog,eksistensialis) menegaskan bepolaritas kesadaran:kesadaran diri akan yang lain. Tetapi bipolaritas kesadaran ( yang tercermin didalam indera), meskipun menyingkirkan subjektivisme dan objektivisme murni. Tidaklah menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Sebab masih ada soal bagaimana membedakan kesan dari kenyataan?
Maka persoalan pokok: mana yang memberi pengetahuan? Indera ataukah pengetahuan padahal kalau mulai pada dengan indera. Kita mengalami kesulitan unutuk membedakan antara kesan dan kenyataan. Sedangkan kalau mulai dengan pikiran kita pun jatuh dalam kesulitan untuk menjelaskan bagaimana pikiran bisa keluar dari dirinya dan menjangkau kenyataan di luarnya.
Untuk bisa memahami persoalanya dengan jelas, baiklah kita mulai dengan pendekatan dari indera, dan kemudian pendekatan dari budi.
Pendekatan dari indra
Menurut John locke yang digunakan untuk mnangkap pengalaman merupakan fotokopy dari kualitas objek. Tetapi sejauh manakah fotokopy itu tidak menyelewengkan objeknya? Untuk itu john locke membedakan objek menjadikan kualitas primer dari kualitas sekunder. Kualitas primer langsung berhubungan dengan bentuk, keluasaan, gerak objek. Sedangkn kualisa sekunder adalah kualitas objek yang masing-masing hanya ditangkap secara khusus oleh indra tertentu. Misalnya; suara oleh telinga, warna oleh mata, bau oleh hidung, rasa oleh lidah atau sentuhan. Menurut John Locke ide yang ditimbulkan oleh impresi kualitas primer tidak usa diragukan kebenarannya.
Kualitas primer biasanya dianggap sebagai bidang sains, sedangkan bidang kualitas sekunder biasanya dinggap sebagai bidang common sense . john locked an para pendukung saintisne beranggapan bahwa semua pengetahuan harus mengacu kepada sains dengan metodenya, sebab sains berhubungan dengan kualitas primer, sehingga memberikan pengetahuan yang pasti.
Tetapi pemisahan mutlak antara kualitas primer dan kualitas sekunder justru membuat epistimologi macet. Sebab epistimologi bermaksud untuk menjelaskan segala jenis pengetahuan. Dengan perbedaan antara kualitas primer dan kualitas sekunder . john locke telah menentukan secara a priori bahwa pengetahuannlah yang diperoleh mlalui sainnlah yang tepat. Sedangkan pengetajuan-pengetahuan yang lain, seperti tiologi, seni, etika, dianggap sebagai tidak tepat dan harus mengacu kepada sains.
Wittgenstein menunjukkan bahwa pneglaman manusia sangatlah komleks. Masing-masing jenis pengalaman emberi pengetahuan tersendiri, mempunyai rasionalitas tersendiri dan menggunakan bahssa sendiri. Berarti pengetahuan bidang tertentu harus dipahami sesuai dengan rasionalitas dan bahas yang digunakannya. Intinya tidak semua pengetahuan dimuat dalam sains.
Namun dari sini timbul suatu pertanyaan apakah penegtahuan itu bersifat relative atau subjektif? Dan tidak ada pengetahuan yang objektif? Biasanya pengetahuan dianggap sebagai objektif bila pengetahuan tersebut tidak bergantung pada subjek. Peranan subjek harus dieliminir sedapat mungkin, sehingga yang terjadi benar-benar hanya ditentukan oleh objek seangkan subjek harus pasif. Tetapi pengertian yang demikian itu absur. Sebab siapakah yang mempunyai pengetahuan itu? Siapakah yang mempersoalkan objektivitas pengetahuan tersebut?jawabannya adalah budi atau kesadaran subjek itu sendiri. Batapapun perspektifnya berbeda-beda atau tidak pernah utuh. Selanjutnya kalau dilihat dari objeknya sendiri, perlulah disadari bahwa objek terlibat dalam waktu dan perkembangan. Maka analisis mengenai pengetahuan yang didasarkan pada indra akan mengalami jalan buntu.
Pendekatan dari budi
Dari pengetahuan diatas menjadi jelas bahwa usaha mencari kepastian absholut bertolak dari indra sebagai sebagai pengetahuan gagal. Padahal budi mempunyai kecendrungan untuk memperoleh pengetahuan absolute tersebut. Maka usaha selanjutnya boleh dicoba untuk berangkat dari budi sebagai sumber dari pengetahuan.
Dari refleksinya budi menemukan prinsip-prinsip pertama sebagai sumber rasionalitas, yang memmberi rambu-rambu bagi pikiran untuk mencapai kepastian. Prinsip-prinsip pertama untuk prinsip identitas, prinsip memadai, prinsip sebab efisien. Tetapi prinsip-prinsip ini hanyalah memberikan keabsholutan kognisional, bukan eksistensial.

Dari refleksinya, budi menemukan prinsip-prinsip pertama sebagai sumber rasionalitas, yang memberi rmbu-rambu bagi pikiran untuk mencapai kepastian. Prinsip-prinsip pertama adalah prinsip identitas., prinsip alasan memadai (sufficient reason), dan prinsip sebab efisien (efficient causality). Tetapi prinsip-prinsip ini hanyalah memberikan keabsolutan kognisional, bukan eksistensial.
Dari eksistensi manusia menjadi jelas bahwa pikiran selalu berkembang. Selanjutnya, kepastian yang akan dicari pikiran adalah persetujuan yang dijamin oleh evidensi. Sedangkan yang dimaksud dengan evidensi adalah kejelasan objek yang memaksa pikiran untuk menangkapnya dengan pasti. Tetapi evidensi yang disajikan objek bermacam-macam. Maka kepastian yang diperoleh pikiran juga bermacam-macam jenisnya. Ada kepastian fisik, yaitu kepasttian yang didasrkan dengan hukum alam (misalnya, api menyebabkan baju bisa terbakar); ada kepastian moral yang didasarkan pada keyakinan akan kelakuan normal (misalnya supir bus yang saya tumpangi tidak akan dengan sengaja menabra kan pada pohon besar); dan ada pula kepastia yang diperoleh dari kesaksian yang konvergen (misaknya: saya yakin kalau ada kota paris, karena banyak kesaksian yang menunjukkan kepastian itu). Namun semua kepastian itu selalu memberikan untuk dilanggar. Yang jelas kepastian absolute bukanlah dasar tindakan manusia. Syarat cukup bagi tindakan adalah kalau ada probabilitas yang sifatanya memadai, tetapi tidak memaksa tindakan.
Didalam situasi tampa kepastian itu, pikiran manusia tetap berfungsi penting dalam mengarahkan hidupnya, terutama berhubungan dengan pengetahuan. Manusia berusa mendapat arti pengalamannya dengan menggunkan konsep atau ide. Jadi konsep atau ide merupakan alat pikiran untuk menangkap makna pengalaman. Karena pengalaman berkembang dan pikiran berkembang. Maka konsep yang merupakan alat pikiran untuk menangkap pengalaman, juga haruis berkembang. Dengan demikian definisi yang digunakan untuk mengartikan konsep tidak boleh dimutlakkan.
Dengan demikian pengetahuan bukanlah sesuatu yang secara mutlak dimiliki atau tidak dimiliki, melainkan mempunyai tahap-tahp yang bersifat progresif menuju kepemuasan. Penegtahuan mengenai esensi kenyataan eksistensial tidak bisa diperoleh melalui definisi konsep. Kenyataan eksistensial bersifat sosio-historis. Konsep haruslah merupakan alata yang berupa kreativ dan lentur (bandingkan dengan pragmatisme-sosiolgisme-historisme). Karena konsep merupakan pembekuan pengalaman, maka konsep berlaku sebagai hipotesse kerja yang harus dicek dengan pengalaman kongkret.

Pikiran pengalaman
Kiranya menjadi jelas bahwa penegtahuan tidak dapat dicapai hanya dengan mengndalkan indra saja, atau budi saja. Pikiran reflektif justru muncul dari pengalaman, untuk mempertanyakan pengalaman dan selanjutnya untuk memberi arti kepada pengalaman secara lebih penuh. Maka pikiran harus setia pada pengalaman, sebabpengalama memuat arti secara riil dan perlu dimengerti sebagai sumber sumber bagi kemungkinan pernyataan. Dalam kaitannya dengan pengetahuan.
Pengalaman tertentu dpat dipahami dengan partisipasi. Terutama yang berkenaan dengan eksistensial
kesimpulan
yang jelas bahwa pengertian pengetahuan berbeda-beda, karena peran subjek berbeda-beda dalam hubungannya dengan benda. Pengertian pengetahuan mengenai hakekatnya harus dimengerti dengan memperhatikan peranan konsep, indra, dan tindakan. Sains sellu mencoba meyakinkan kembali dan memperkembangkan penegtahuannya tentang benda-benda alami dengan menggunakan teori dan percobaan. Terlebih lagi sains selalu dilihat dlam kegunaannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi manusia setiap harinya. Sains relative bersifat objektif. Tetapi hati-hati pula sebab observasi yang dugunakan untuk menguji teori pun selalu terikat pada teori itu sendiri yang disebut theory-laden.
Sedangkan dalam dengan transidensi yang bukan benda, pengetahuan bersifat analog. Misalnya pengetahuan tentang kebakaan jiwa tidak selalu menghapuskan rasa takut akan kematian. Penegtahuan seperti ini bukanlah penegtahuan yang fenominal dan sifatnya melibatkan keebasan.

Bab 3
Aliran-aliran Filsafat

Aliran aliran yang terdapat dalam filsafat adalah sangat banyak dan komplek. Dibawah ini akan akan kita bicarakan: aliran metafisika, aliran etika dan aliran aliran Teori pengetahuan.
A.Aliran-aliran Metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu (1)yang mengenai kwantitas(jumlah) dan (2) yang mengenai kwalitas (sifat).
Yang mengenai kwantitas ini sendiri:
a.Monisme, b. dualisme dan c.Pluralisme.
Monisme.ialah aliran yang mengemukakan unsure pokok segala yang ada ini adalah esa(satu). Menurut Thales: air, menerut Anaximandros:apaieron, menurut Anaximenes : udara. Dualisme, ialah aliran yang berpendirian unsur pokok sarwa yang ada ini adalah dua, yitu roh dan benda. Pluralisme, ialah aliran yang berpendapat unsur pokok hakekat kenyataan ini adalah banyak Menurut Empodekles: udara, api, air dan tanah.
Yang mengenai kwalitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni:
1.yang melihat hakikat kenyataan itu tetapi; dan
2.yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.
Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah:
1.Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh.
2.Materialisme, yakni aliran berpendirian bahwa hakikat itu besifat materi.
Yang termasuk golongan ke2 (kejadian) ialah:
1.Mekanisme, yakni aliran berkeyakinan, bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hokum sebab akibat.
2.Aliran Teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan,bahwa kejadian yang satu berhubungan kejadian yang lain, bukan oleh hokum sebab akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama.
3.Determinisme, yakni aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil keputusan-krputusan yang penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.
4.Indeterminisme, ialah aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yangf seluas-luasnya.
B.Aliran-Aliran Etika
Aliran penting dalam Etika banyak sekali, diantaranya :
1. aliran etika Naturalis ialah aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natura (fitra) kejadian manusia sendiri.
2.aliran etika hidoesmi ialah aliran yang berpendapat bahwa perbutan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan hedone (kenikmatan dan kelezatan).
3.aliran etika Utilitarisme ialah alran yang menilai baik dengan buruk perbuatan manusia ditinjau dari segi kecil dan besarnya manfata bagi manusia (Utility artinya bermanfaat).
4.aliran etika edialisme ialah aliran manusia jangan terikat pada sebab musabab lahir, tetapi harus didasarkan pada konsep dasar kerohaniaan(edia) yang lebih tinggi.
5.aliran etika vitalisme ialah aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya ukuran hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan.
6.aliran etika theologis ialah aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik daan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuai dengan perintah tuhan (theos artinya tuhan).
C.Aliran-aliran teori prngetahuan
Aliran ini menjawab pertanyaan bagaimana manusia mendapat pengetahuan , sehingga pengetahuan itu benar dan benar berlaku. Antara lain:
1.golongan yang pertama ini yaitu golongan yang mengemukakan asal atau sumber penngetahuan, termasuk kedalamnya :
rasionalisme ialah aliran ini mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah pikiran, rasio dan jiwa manusia
emperisme ialah aliran yang mengatakan, bahwa pengetahuan manusia berasal dari pngalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap panca indranya.
Kritisisme (transidentalisme) ialah aliran yang berpendapat bahwa aliran pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.
2.yang kedua ini adalah golongan yang mengemukakan hakekat pengetahuan manusia kedalamnya:
realisme ialah aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran baik dan tepat daro pada kebenaran pengetahuan yang terbaik merupakan kebenaran yang sesungguhnya ada.
Idealisme ialah aliran yang berpendapat pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia sedang kenyataan yang diketahui manusia itu sekalinya terletak diluarnya.
D.Aliran-aliran filsafat lainnya

Disamping aliran-aliran diatas, masih banyak aliran-aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain:
1.existensialisme ialah aliran yang berpenderiaan, bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang konkrit, yaitu manusia sebagai exsistensi dan sehubungan dengan titik tolak ini, maka bagi manusia exsistensi mendahukui essensi.
2.pragmatisme ialah aliran yang beranggapan bahwa benar atau tidaknya suatu ucapan , dalil, teori tergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam hidupnya.
3.fenomenologi ialah aliran yang berpendapat bahawa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai, jika kita mengamat dan amati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.
4.positivisme ialah aliran yang berpendirian bahwa filsafat itu hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positive artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
5.aliran filsafat hidup, ialah aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian , sehingga filsafat ini tidak hanya hal yang mengenai berfikir saja,melainkan juga mengenai ada yang mengikutkan kehendak, hati dan iman, pendeknya seluruh hidup.

Bab 5
Filsafat Sejarah dan Sejarah Filsafat

Istilah Filsafat Sejarah
Bahan yang dibahas dalam buku ini kadang-kadang disebut filsafat sejarah, kadang-kadang teori sejarah. Dinegara Belanda biasanya dipergunakan istilah pertama, sedangkan di Inggris, Jerman, dan Francis dipakai padanan istilah sejarah filsafat. Hanya di Jerman istilah”theoretische Geschichte” atau “theorie der geschichtswissenschaft” agak disukai juga.
Seyogyanya kita menyesuaikan diri pada logat ilmiah internasional, lalu melepaskan pemakaian istilah teori sejarah atau sejarah teoretis, karena pemakaian istilah ini dapat menimbulkan salah paham. Pada tahun 1931 pun istilah teori sejarah sudah diperkenalkan oleh Kuypres “ Dosen Filsafat di Universitas Utrecht, tetapi isltilah ini baru umum diketahui oleh karya ahli sejarah di Universitas di Amsterdams yaitu oleh Prof. J.M Romein (1893-1962). Ia membedakan sejarah teoritis atau teori sejarah dari filsafat sejarah, dengan menberi tempat pada teori sejarah antara filsafat sejarah dalam arti yang asli dan pengkajian sejarah sendiri. oleh Romein sejarah diberi tugas untuk menyajikan teori-teori dan konsep-konsep yang memungkinkan seseorang ahli sejarah mengadakan integfrasi terhadap semua pandangan fragmentaris mengenai masa silam yang mengembangkan oleh macam-macam specialisasi didalam ilmu sejarah. Adapun tugas teori sejarah ialah menyusun kembali kepingan-kepingan mengenai masa silam sehingga kita dapat mengenal kembali wajahnya. Gambaran mengenai revolusi nasional misalnya, dipotong-potong, didekati dari sudut meliter, politik, sosek, lalu dapat di integrasikan dalam satu sintesa.
Tak seorangpun membantah kesahihan usaha Romein itu. Rupanya dalam pengkajian ilmu sejarah masa kini analisa menang terhadap sintesa. Tetapi dapat disangsikan apakah cita-cita Romein juga sungguh dapat dilaksanakan andaikata teori sejarah seprti yang dibayangkan oleh Romein sungguh dapat dilaksanakan, maka seharusnya bidang teori sejarah dapat ditentukan garis perbatasannya. Dengan filsafat sejarah disatu pihak dan pengkajian sejarah dilain pihak. Romein sendiri tidak berhasil menarik garis perbatasan tersebut. Masalah-masalah yang menurut pendapat dia termasuk bidang teori sejarah ternyata merupakan masalah filsafat sejarah atau masalah pengkajian sejarah. Usaha-usaha di kemudian hari untuk memberi konsep pada teori sejarah tidak berhasil juga, sehingga cukup alasan bagi dugaan, bahwa teori sejarah seperti dibayagkan oleh Romein tidak mempunyai hak hidup karena tidak dapat mandiri. Rupanya tak ada suatu cabang ilmu yang dapat dinamakan teori sejarah atau sejarah teoritis. Maka dari itu, lebih baik kita melepaskan kedua konsep tersebut dan hanya mempertahankan istilah filsafat sejarah. ( Ankersmit, 1987: 1-4).

Filsafat Sejarah
Kajian ilmu sejarah mengkaji masalah waktu dan peristiwa. Jadi filsafat sejarah adalah ilmu filsafat yang ingin memberi jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah. Jelasnya, filsafat sejarah adalah salah satu bagian filsafat yang ingin menyelidiki sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa, serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.
Filsafat sejarah berusa mencari penjelasan serta berusaha masuk kedalam dan pikiran cita-cita manusia sendiri dan memberikan keterangan tentang bagaimana munculnya suatu Negara, bagaimana proses perkembangan kebudayaannya samapai mencapai puncak kejayaannya dan akhirnya mengalami kemunduran seperti perna dialami oleh Negara-negara atas pada zaman yang lalu disertai peran pemimpin terkenal sebagai subjek pembuat sejarah pada zamannya (Tamburaka, 1999: 130).
Menurut Prof. Sartono Kartodirdjo filsafat sejarah adalah salah satu bagian filsafat yang berusaha memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai makna suatu proses pristiwa sejarah. Manusia berbuda tidak puas dengan pengetahuan sejarah, dicarinya makna yang menguasai kejadian-kejadian sejarah. Dicarinya hubungan antara fakta-fakta dan sampai kepada asal dan tujuannya. Kekuatan apakah yang menggerakkan sejarah kearah tujuannya? Bagaimana terakhirnya situ proses sejarah? (Sartono Kartodirdjo 1990: 79-79).
Sedangkan menurut Dr. Zaenab Al Kudari mengemukakan bahwa fisafat sejarah merupakan suatu tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa histories dengan tujuan untuk mengetahui fakta-fakta esensial yang mengendalikan perjalanan peristiwa sejarah.
Kedudukan dan status filsafat sejarah merupakan cabang dari filsafat yang berhubungan dengan sejarah sebagai ilmu ( yang mempunyai sistematika). Dalam sistematika tersebut tidak ada yang namanya filsafat sejarah maka lebih tepatnya sebagai anak cabang atau ranting dari ilmu sejarah.
Kalau diatas dijelaskan bahwa filsafat sejarah merupakan cabang dari filsafat yang berhubungan dengan sejarah sebagai ilmu, tentunya jagan sampai dilupakan dan perlu saya ingatkan kembali bahwa ilmu sejarah mempunyai tiga konsep dasar sejarah diantaranya adalah:
a)Sejarah sebagai peristiwa, adalah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
b)Sejarah sebagai kisah atau cerita, adalah kisah atau cerita tentang peristiwa sejarah. Dan
c)Sejarah sebagai ilmu adalah suatu disiplin ilmu atau cabang pengetahuan yang berusaha menentukan dan mewariskan pengetahuan menegnai masa lampau dalm kehidupan masyarakat.
Istilah “ilmu” merupakan pengetahuan disini antara lain: 1. didapat dengan metode tertentu dan dihubungkan secara sistematis, 2. berisi generalisasi-generalisasi (kebenaran umum). 3. memungkinkan membuat prediksi-prediksi/ramalan ilmiah dan dapat mengendalikan fenomena di depan dan 4. objektif, dalam pengertian setiap peneliti harus menerima kebenaran itu bila ditunjukkan bukti-bukti kepadanya apaun selera dan latar dirinya.
Sedangakan kedudukan atau status filsafat sejarah dijelaskan pula oleh The Liang Bie “ filsafat sejarah sebagai anak cabang filsafat yaitu filsafat khusus adalah suatu cabanng filsafat yang mengkaji bidang-bidang khusus. Misalnya spesifik dari pengalaman / kegiatan hidup manusia. Filsafat khusus disini terdiri dari : filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat politik, filsafat pendidikan dan filsafat sejarah.
Menurut S. Tulman , filsafat merupakan sebuah anak cabang atau anak ranting dari sejarah ilmu. Filsafat ilmu yang dimaksud disini antara lain: ontology ( hakekat pengetahuan), Epistimologi ( cara memperoleh pengetahuan), oksiologi ( manfaat ilmu pengetahuan ).

Sejarah Filsafat
Kalau diatas dijelaskan mengenai filsafat sejarah bahwa filsafat sejarah mengkaji, mencari penjelasan dan menyelidiki sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa, serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah. Tetapi apa sih sebenarnya filsafat sejarah itu sendiri. Dalam buku ini akan dijelaskan apa yang membedakanya karena didalamya mempunyai tugas dan ruang lingkup kajian yang berbeda tetapi mempunyai hubungan yang erat sekali.
Sejarah filsafat adalah suatu cabang ilmu yang mengkaji tentang sejarah perkembangan filsafat dari masa kemasa, tentang system-sistem filsafat serta penafsiran secara kritis hasil-hasil pemikiran para filsuf terhadap persoalan-persoalan filsafati.
Pengertian lain filsafat sejarah filsafat banyak menekankan pada aspek filsafat atau suatu kajian filsafat sehingga rumusannya sebagai berikut:
Sejarah filsafat adalah suatu museum yang memuat koleksi raksasa dari pendapat-pendapat dan pemikir-pemikir besar mengenai misteri hidup. Koleksi ini bertambah terus-menerus dan dibedakan menjadi tradisi besar yaitu: filsafat India, filsafat cina dan filsafat barat ( H. Hamersma 1990:IX).
Dari kedua definisi konsep diatas, saya lebih tertarik dengan konsep yang pertama dengan alasan konsep yang pertama sebagai definisi oprasional tentang (sejarah filsafat) karena didalamnya telah menekankan pokok kajian atau pengertiaan sejarah dan pengertiaan filsafat serta perkembangan sejarah filsafat.
Karena disiplin kita adalah ilmu sejarah, maka tidak ada salahnya juga belajar ilmu filsafat termasuk sejarahnya. Apa sih Manfaat mempelajari sejarah filsafat? Jika aktivitas mempelajari filsafat termasuk seluruh bagiaan filsafat, misalnya filsafat sejarah mengacu pada pengghidupan kembali pemikiran-pemikiran filsafat dimasa lampau, maka kegiatan ini termasuk pada aspek penguasaan sejarah filsafat. Dalam hal ini cara mempelajari filsafat yang dipandang baik adalah dengan mengkaji teks-teks filosofis dari pada filsuf terdahulu.

Manfaat Sejarah Filsafat dan Filsafat Sejarah
Manfaat mempelajari dapat mengetahui sejarah filsafat akan memperoleh nilai tambah , yaitu sebagai berikut :
1. pemikiran dari setiap zaman berakar pada masa lampau, dengan demikian pemikiran ini hanya dapat dipahami dengan suatu lampiran perkembangan sejarah ( The Liang Bie, 1977:117).
2.dengan mempelajari sejarah filsafat, seorang seseorang akan lebih arif dan bijaksana dalam memandang dunia yang selalu bertentangan ini karena dalam memiliki Vision atau cara pandang yang lebih luas dan jauh kedepan.
3.karena setiap orang yang berfikir saecara sungguh –sungguh tidak dapat menghindarkan diri dari filsafat. Ia mampu berfikir secara reflektif sebagai salah satu metode paling baik dalam belajar ilmu filsafat, dapat memilki kemampuan secara intelektual, sistematis dan analisis serta menarik kesimpulan secara kronologis
4.ahli filsafat memberikan pertimbangan untuk menjadi seorang sejarawan yang ulung, tidak mutlak perlu memiliki pengetahuan filsafat sejarah. Karena banyak sejarawan ulung tak pernah menekuni masalah-masalah filsafat sejarah. Tetapi yang ditawarkan oleh seorang ahli filsafat bagi sejarawan adalah dapat mempertajam kepekaan kritis seoran peneliti sejarah. Setiap orang mungkin merasa kecewa dan bertanya lalu apa manfaatnya penelitian seperti dilakukan oleh filsafat sejarah. Bila seorang filsuf sejarah tidak dapat memberikan sumbangan pikiran yang membantu seorang ahli sejarah agar dapat melangkah dari bahan sumber-sumber sejarah menuju sebuah monografi, dan
5.dengan dilatarbelakangi filsafat sejarah seorang peneliti sejarah lebih mampu mengadakan suatu penilaian pribadi menganai keadaan pengkajian sejarah pada suatu saat tertentu. Bahkan sekedar pangetahuan mengenai filsafat sejarah mutlak perlu,agar dapat mengapresiasi pengkajian sejarah masa kini dengan memuaskan. Dalam pemgkajian sejarah terdapat banyak aliran yang oleh pendukungnya masing-masing diiklankan dengan ramai, sehungga perlu diadakan suatu pilihan. Disini pun pengetahuan mengenai filsafat sejarah ada manfaatnya.setiap ahli sejarah yang dengan sungguh-sungguh menekuni profesinya, mau tidak mau menganut beberapa oemdapat yang berakar pada filsafat sejarah.
6.para peneliti sejarah sendiri, kalau hanya mengandalkan intuisinya, kadang-kadang sampai pada kesimpulan-kesimpulan mengenai bidang penelitianya yang sukar dapat di pertahankan
7.filsafat sejarah tidak mengajarkan bagaimana pengkajian sejarah harus dilakukan. Akan tetapi, filsafat sejarah dapat menawarkan pengertian mengenai untung ruginya berbagai pendekatan terhadap masa silam dan menjadikan kita waspada terhadap pendapat-pendapat keliru mengenai tugas dan tujuan pengkajian sejarah.
Tujuan filsafat sejarah
diatas telah dijelaskan bahwa filsafat sejarah adalah salah satu bagian filsafat yang ingin menyelidiki sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.
Walaupun batasan/ pengertian filsafat sejarah agak luas namun sudah menjadi ciri manusia yang berfikir bahwa ia hendak menyusun pengetahuannya sedemikian rupa, sehingga pengetahuan itu dapat tercakup oleh satu atau dua asas pokok yang prinsip.
Demikian pula halnya disini, dalam usaha merumuskan tujuan filsafat sejarah. Hal ini sangat penting karena dalam rangka studi untuk mendalami filsafat sejarah perlu diketahui apa sebenarnya tujuan utamanya? Dibawah ini akan diberikan gambaran secara detail, yaitu:
a.untuk menyelidiki sebab–sebab terakhir peristiwa sejarah agar dapat diungkapkan hakekat dan makna yang terdalam tentang peristiwa sejarah.
b.Untuk Memberikan jawaban atas pertanyaan” kemanakah arah sejarah” serta menyelidiki semua sebab timbulnya perkembangan segala sesuatu yang ada.
c.Melalui studi mendalam tentang filsafat sejarah, dapat membentuk seseorang memiliki vision atau wawasan dan pandangan yang luas.
d.Studi filsafat sejarah dapat menjadikan seseorang berfikir analitis kronologis serta arif dan bijaksana atau wisdom.
e.Filsafat sejarah bertujuan membentuk dan menyusun isi, hakekat serta menberi makna dari pada sejarah menyusun suatu pandangan dunia untuk filsafat sejarah serta pandangan berwawasan nasional untuk filsafat sejarah nasional Indonesia
Ruang lingkup Sejarah Filsafat
Perkembangan ruang pemikiran filsafat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan alam sekitar dan lingkungan. Ruang lingkup sejarah filsafat antara lain:
1.Sitem –sistem filsafat
2. filsafat timur yang meliputi : filsafat India, filsafat Tiongkok ( Cina ), filsafat islam dan filsafat Indonesia
3.filsafat barat yang meliputi filsafat: filsafat zaman yunani kuno, filsafat skolastik dan zaman patriotic, filsafat zaman modern dan filsafat sekarang ini.
Disamping itu, akan diberikan penafsiran secara kritis hasil-hasil pemikiran para filsuf terhadap persoalan-persoalan filsafat dari pada perkembangan filsafat. Apalagi kita semua ketahui bahwa filsafat itu merupakan induk? Ibu dari semua ilmu pemngetahuan sebelum ilmu-ilmu itu dimiliki dan memisahkan diri dari filsafat untuk menjadi ilmu yang berdiri sendiri.

Bab 6
Sejarah Perkembangan Filsafat Eropa

Gambaran dan pandangan filsafat Eropa, lebih banyak pengaruhnya dari dari alam pikiran Yunani karena dalam sejarah filsafat biasanya filsafat Yunani dimajukan sebagai pangkal sjarah filsafat Barat (Eropa). Alasan yang paling mendasar karena dunia barat (Erpa Barat) berpangkal kepada pikiran yunani.
Berdasarkan gambaran diatas, sangat kurang tepatlah apabila memberikan sebuah gambaran yang secara terpisah mengenai filsafat dari sudut tempatnya dengan pertimbangan alam pikiran tidak dapat dibatasi dengan batasan negeri. Kalau filsafat Eropa saat ini kita kenal merupakan suatu negeri yang luar biasa kemajuan tentunya kalau flesback, tentunya sangat tidak masuk akal jika dunia barat (Romawi) tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Yunani. Lebih pantasnya dikatakan sebagai abad kegelapan. Menurut Salam, Burhanuddin (2000:123) bahwa betapapun terkenalnya bangsa barat (Romawi) namun dalam lapangan ilmu pengetahuan praktis mereka tidak memmberikan apa-apapun. Mereka ulung dalam soaal militer, perang, politik, perdagangan, pelayaran, pembangunan dalam sisten pengairan, jalan rara, pengairan. Hal ini juga ditambahkan oleh Poedjawijatna (2005:75). Pada masa kerajaan Roma sebetulnya tidak ada ahli-ahli filsafat yang menghasilkan penyelidikan filsafat yang tersendiri. Biasanya hanya berpangkal pada yunani saja.
Jadi beberapa gambaran diatas, bisa dipahami apabila melihat kebelakang sebenarnya pandangan dunia barat tidak ada istimewahnya jika dibandingkan dengan pandangan Yunani.

1.Sejarah Filsafat Zaman Klasik Atau Kuna

2.Sejarah Filsafat Zaman Abad Pertengahan
A. Pandangan Sedjarah Abad Pertengahan (A. Sartono kartodhirdjo)
kebudayaan rochani Abad Pertengahan bercirikan agama Kristen. Seluruh jiwa masyarakat dengan berbagai sendi-sendinya bersifat keagamaan. Jiwa keagamaan ini yang mendorong berbagai bentuk dan paparan kehidupan. Orang hanya mengakui makna kehidupannya yang berhubungan dengan tujuannya, yaitu tujuan adhikodrati tentang kehidupan bahagia. Jiwa diluputi oleh sikap perasaan-perasaan yang timbul karena angan-angan keagamaan. Oleh karenanya menimbulkan pandangan hidup dan pandangan dunia yang bersifat mistik.
Kita ketahui, selama abad pertengahan gambaran-gambaran pembabakan masa menurut analogi dari cerita-cerita injil beredar dimana-mana. Berbalikan dengan orang yunani, nilai-nilai hidup bagi orang abad pertengahan tidak terletak pada masa kini. Pemikiran abad pertengahan sebelum abad XII, sebelum munculnya filsafat Scholastik, dikuasai oleh cara pemikiran Augustinus, yaitu semacam Neoplantonisme Kristen. Benda-benda didunia diciptakan menurut contoh cita-cita keabadian dalam jiwa Tuhan.
Sejarah keselamatan adalah jatuh bangunnya bangsa yahudi dari dosa dan pengampunan, yang akhirnya sampai pada penebusan. Masa diantara kebangkitan sampai pada kedatangan kristus kembali adalah masa percobaan. Dengan sudut tinjaun tentang sejarah keselamatan ini Augustinus ( 354-430) menganggap sejarah profan sebagai suatu pertentangan universal antara Kerajaa Tuhan dan Kerajaan Dunia.
Selanjutnya Augustinus menunjukkan, sejarah tidak ditentukan oleh manusia, tetapi oleh pola rencana Allah. Jadi Tuhan ikut mengambil bagian dalam sejarah. Augustinus masih terus menunjukan adanya pimpinan Tuhan didalam sejarah. Dengan dasar inilah ia membagi sejarah dunia dalam enam periode :
1.Dari Adan sampai air Bah
2.Dari air bah sampai Ibrahim
3.Dari Ibrahim sampai Dawud
4.Dari Dawud sampai di Babylon
5.Dari pembuangan sampai kelahiran kristus
6.Dari kristus sampai akhir dunia
Keenam periode ini oleh Augustinus juga dihubungkan dengan keempat kejadian dunia yaitu : Asria, Pesria, Masedonia, Roma.
Kepastian hidup didalam Senescensn saeculum diperkuat dengan runtuhnya Romawi Barat, dan tidak datangnya masa akhir dapat diterangkan oleh terus berlangsungnya Romawi Timur. Baru didalam abad XII timbullah pandangan sejarah yang baru, yaitu :
1.Aliran realistis yang diwakili oleh Otto van Freising
2.Aliran mistis simbolis oleh Joachim van foried

Otto van Freising ( 1114-1158)

didalam bukunya “Chronican Historia de duabus civitatibus”. Ia berpendapat bahwa ini telah hamper sampai, karena ia melihat didalam diri Hendrik IV sebagai batu “yang direnggut dari gunung” untuk menghancurkan kerajaan terakhir.
Disampinh pandangan pessimistis ini terdapay juga pandangan optimistis. Kebudayaan berangsur terus-menerus dari Timur ke Barat. Disitu terdapat periode timbul dan tenggelam, kematian dan pembaharuan secara periodic. Perinciannya kedalam periode-periode sebagai berikut :
1.Periode pertama berlangsung sampai berdirinya Roma
2.Periode kedua dari berdirinya Roma sampai kedatangan kristus
3.Periode ketiga berakhir dengan penyerahan kerajaan oleh Constantijn kepada bangsa yunani
4.periode keempat berakhir dengan penjerahan bangsa yunani kepada bangsa Franken
5.periode kelima dengan penjerahan dari bangsa Franken kepada bangsa German
6.periode keenam diakhiri dengan peperangan antara Gregorius VII dengan Hendrik IV
Otto mengakhirinya dengan penglihatan echatologis yang menantikan segera datangnya hari-ketenyraman.

Joachim van Fiore (1145-1202)

konsepsi ini berupa ajaran keselamatan dan terjadi atas pengertian tentang wahyu. Dilain pihak pengetian sejarah menjadi alat yang tak dapat diabaikan untuk menangkap arti yang mendalam dari kitab perjanjian baru. Karena sejarah dunia bersamaan denga sejarah Gereja. Menurut Joachim sejarah juga merupakan pencerminan kurnia Tuhan dalam kemanusian. Ini terjadi dalam tiga opera, yang dilaksanakan sendiri oleh oleh masing-masing dari tiga pribadi, dan dengan ini sejarah dibagi menjadi tiga babakan waktu yang besar : 1. Periode Bapa, 2. Periode Putera, 3. Periode roh kudus. Jochim beranggapan, bahwa masa-masa ini dapat berdiri saling berdampingan. Dalam tiap periode berdiri dua negara dengan pemimpinnya yang saling bertentangan. Herodes melawan Kristus, Neropertus, Mohamed-Benedictus, Saladyn-Hendrik IV, Anti Christ-Dux.

3.Sejarah Filsafat Zaman Abad Modern

zaman modern
,,Adalah kehadiran manusia, yang menaruh
kepentingan atas adanya makhul yang lain
periode Renaissance, Reformasi dan Rasionalisme merupakan peralihan kearah jaman modern. Tiga aliran inilah yang memberikan wajah baru pada kehidupan Eropa Barat. Dalam abad XIX pemisahan antara abad pertengahan masih sangat jelas dan tajam. Renaissance, Reformasi, jatuhnya konstatinopel, penemuan-penemuan geografis, pendapatan seni letak buku, semuanya terjadi didalam pertengahan abad XV dan dasawarsa pertama abad XVI.
Kebudayaan modern lebih bersifat sekuler dari pada kebudayaan abad pertengahan sebagai kekuasaan pemerintahaan yang menguasai kebudayaan. Sebelum tahun 1400 di barat hanya ada satu gereja, yaitu gereja Khatolik-Roma, tetapi sesudah tahun 1700 terdapat ratusan sekte dan masih tak terhitung lagi banyaknya perkumpulan yang mempunyai arah kerohanian.

RENAISSANCE
Kebudayaan Renaissance berkembang di Italia, karena perdagangan pelajar setelah perang salib mengalami kemajuan pesat. Renaissance dianggap sebagai masa peralihan dar abad pertengahan kejaman modern dan dengan demikian ia memiliki unsure-unsur dari kebudayaan kuno maupun kebudayaan baru.
Lambat laun nilai kristiani abad pertengahan mulai kehilangan arti, ide-ide tradisional abad pertengahan tak lagi memberi kepuasan. Kepercayaan kepada Tuhan tak lagi memberi garis arah pada pandangan hidup manusia. Aturan-aturan moral lama tak lagi dihormati dan oaring tak segan-segan untuk merebut kekuasaan dengan jalan khianat dan kekejaman.
Situasi politik pada masa ini menggantungkan perkembangan individu, oleh karenanya kesenian dan ilmu pengetahuan maju dengan sangat pesatnya. Disiplin moril intelektual dan politik adalah asing pada masa ini. Tyran dan desport Rennaissance mau mempertahankan diri pribadi dan tidak mau tunduk pada suatu kekuasaanpun, dari sebab itu lah maka dalam abad XV di Italia terjadi anarchi politik dan moril. Keadaan ini turut mendorong munculnya ajaran Macchiavelli yang termuat dalam II principe.

REFORMASI
Latar belakang ekonomis dari masa Reformasi adalah peralihan dari rumah tangga alam ke kapitalisme dagang, dan karena penemuan-penemuan besar yang mengakibatakan meluasnya perdagangan dan pelajaran. Pedagang kaya memegang monopoli dan pengusaha bank yang kaya dengan tepat memperoleh banyak kekuasaan politik karena pinjaman-pinjaman yang tidak sedikit.
Munculnya nasionalissme akibat kemunduran gereja romawi menjelang akhir abad pertengahan maka protentatisme dari Luther, Calvijn dan Zwingli dapat berkumandang di barat. Protentatisme semula tak menghendaki pembaharuan gerej, melainkan ingin kembali seperti oaring-orang Kristen pertama pada masa permulaan. Protentatisme merupakan revolusi menentang kekuasaaan gereja, menentan kepausan dan hierarchi gereja. Orang menolak perantara dari pada imam maupun organisa buatan manusia dan ingin langsung berhubungan dengan Tuhan.
Ajaran Calvin juga didasarkan atas keselamatan yang disebabkan karena dan terpilihnya seorang oleh Tuhan. Ia mencoba mendirikan perkumpulan suci dari para pemeluk, yang pengurusnya di pegang oleh para kaum awam. Kaum yang menghendaki pemurnian beranggapan adalah sesuatu yang sungguh baik dan bersifat illahi.
Reformasi di Inggris berakar pada kepentingan politik dan ekonomi yang memainkan peranan terpenting ajaran dan upacara-upacara pada mulanya sama dengan gereja khatolik. Semasa skisma itu persoalannya ialah untuk memperbesar kekuasaan raja dan mengurangi pengaruh gereja. Lambat laun ide protestan itu merembet ke inggris, terutama dikalangan para pedagang, dan baru diantara para rohaniawan.
Dengan demikian berlalulah masa kesatuan Kristen di Eropa, monopoli golongan rohaniawan telah retak dan kekuasaan politik maupun rohaniawan roma menjadi patah. Protestan sejak itu tak lagi mendapatkan daerah-daerah baru yang penting. Selanjutnya meluasnya pandangan sejarah ilmiah. Maka orang mulai menerima kemacam-ragaman kepercayaan agama.
Oleh karena reaksi terhadap Reformasi kebetulan bertepatan waktunya dengan dominasi spanyol, maka protwntatisme diidentifikasikan dengan nasinalisme, yang muncul untuk menentang absolutisme politik dan kegerejaan dari Gereja Roma.

ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pasti, ilmu falak, dan lain-lain ilmu pengetahuan alam. Hal ini terjadi terutama dalam abad XVII, yang mencari banyak orang terpelajar dan ahli-ahli ilmu pengetahuan yang besar seperti : Newton, Hervey, Descartes, Pascal dan masih banyak lainnya.
Kekayaan, organisasi ekonomi secara modern dan lebih adanya jiwa bebas, semuanya tak dapat disangsikan merupakan factor-faktor yang mendorong bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Pengawasan dari golongan rohaniawan telah menjadi lemah, dank arena orang tak lagi mau mengikuti pendapat-pendapat secara membabi buta, maka ini membangunkan jiwa yang kritis.

RASIONALISME
Kemakmuran dalam abad XVI dan XVII merupakan dasar yang kuat bagi peradaban umunya. Ilmu pengetahuan, filsafat dan kesusasteraan menyongsong masa keemasannya. Usaha ilmu pengetahuan dengan hasilnya yang mengagumkan menyebabkan suatu perubahan menyeluruh dan berarti suatu kemajuan material yang abru semenjak masa-masa Mesir dan Mesopotamia.
Denga penelitian yang tekun maka jiwa rasionalisme akan dapat menembus dunia kebendaan. Ia tak mau menggunakan hal-hal diatas kodrat sebagi dasar sebagai dasar untuk menerangkan benda-benda ataupun sebagai patokan. Dengan demikian ia memutuskan hubungan dengan tradisi Kristiani dan kekuasaan gereja maupun klerikal.

ABAD XVIII- Abad Pertengahan
Abad XVIII merupakan masa timbulnya golongan tengahan, sebagai akibat dari munculnya perdagangan dengan daerah koloni dan capital. Daerah koloni juga kaya menghasilkan produksi-produksi baru dan bersamaan itu puls merupakan pasar-pasar untuk hasil industri dari negara induk. Kekuasaan capital juga membawa pengaruh pada kehidupan negara. Pendek kata abad XVIII merupakan periode kemajuan yang pesat dan penuh janji-janji untuk masa dagang.
Arah pemikiran abad XVII dan XVIII sangat ditentukan oleh adanya sukses-sukses dan kemajuan yang pesat dibidang ilmu pengetahuan. Hasil yang gemilang ini disatu pihak hanya dapat dicapai berkat penyelidikan yang tekun dan dilain pihak usaha ilmu pengetahuan dapat tumbuh subur didalam suasana kebebasan dan kemerdekaan.
KEBUDAYAAN ROHANI
Apabila abad XIII merupakan titik puncak kebudayaan abad pertengahan dengan gerejanya yang universal dan kekuasaan negaranya. Maka didalam abad XVIII kebudayaan modern sebagai kebudayaan kaum awam. Emansipasi terhadap gereja telah selesai dengan sempurna.. Agama Kristen telah digantikan oleh religi alam, dan Tuhan oleh akal.
Setelah terjadi pemutusan ikatan dari tradisi yang pada masa Rennaissance diartikan sebagai penemuan manusia, dan setelah penolakan segala kekuasaan gereja selama reformasi , maka akhirnya individu menemukan dirinya sendiri. Sesungguhnya dengan adanya agama dari akal ini kita telah berada ditengah-tengah kebudayaan yang anthroposentris, sebagai antipode kebusayaan theosentris dari abad pertengahan. kebudayaan modern adalah laksana mozaik : dimana banyak ajaran-ajaran agama, aliran-aliran dalam filsafat, pendek kata banyak pandangan tentang duniawi.

Abad-XIX
Ekspansi besar-besaran dari kekayaan dan kekuasaan adalah latar belakang ekonomis perkembangan abad XIX. Semua ini akibat langsung dari revolusi industri dan technik, yang dimulai sekitar pertengahan abad XVIII. Penggunaan penemuan-penemuan technik dari kincir terbang, mesin uap sampai dynamo dan elektromahnetisme, bersama dengan pemakaian arang-batu sebagi bahan dan pengolaan baja.
Mesin juga dipakai untuk keperluan pengangkutan : lokomotif dan perahu asap mempercepat dan mempermudah perjalanan. Lalu lintas yang tepat dan industrialisasi meningkatkan besarnya kosentrasi perdagangan dan perusahaan dikota-kota. Peningkatan produksi juga mengakibatkan tambahnya penduduk dengan cepat. Abad XIX juga dilukiskan sebagai periode dari prestasi kosmopolitis dalam lingkup internasional.
Akibat lain dari kemajuan material ialah munculnya golongan tengahan dibidang politik dengan ide-ide liberalisme. Persamaan hokum dan hak bersuara dalam pemerintahan melalui parlemen. Kecuali dibidang politik cita-cita humanitas dan kebebasan juga dibidang social. Ide tentang martabat manusia tidak hanya dicoba direalisasikannya dalam penentangan terhadap segala bentuk pemerasaan seseorang oleh orang lain.
Emansipasi yang diperjuangkan oleh liberalisme tak sampai begitu jauh. Ia tidak ma uterus mengadakan asas kesamaan dalam bidang ekonomi. Didalam banyak negara gerakan liberalisme berjalan bersama-sama dengan nasionalisme, misalnya di Italia dan jerman. Disamping itu nasinalisme memperjuangkan internasional antara bangsa-bangsa yang diperintah oleh golongan tengahan melalui parlemen dengan didasarkan atas perdagangan bebas.
Adanya revolusi industri produksi mekanis juga menunjukkan segi-segi negatifnya. Distu pihak kemakmuran ternyata bertambah dengan naiknya kehidupan secara umum, dilain pihak jaman mesin telah membawa bencana yang tak terkatakan. Meskipun orang mencegah peraturan social mengenai upah yang rendah.

PANDANGAN SEJARAH MODERN
Pengawasan dari kebudayaan, yang berlangsung pada menjelang akhir abad pertengahan dan di perkuat oleh Renaissance dan Reformasi, yang memuncak pada masa pencerahan. Rasionalisme menganggap sejarah tak lain dari pada kemenangan yang terus menerus dari akal dalam diri manusia, dan kemenangan atas kekuatan irrasional didunia.
Sejarah tidak lain adalah perwujudan akal didalam waktu, sedang negara adalah bentuk keharusan. Histories materialisme menggambarkan perjalanan sejarah sebagai perkembangan dialektis dari perjuangan kelas untuk akhirnya sampai pada masyarakat sosialistis yang di idam-idamkan. Makin lama tekanan diletakkan pada sejarah sekuler dan tujuan keduniawian manusia adalah merupakan akibat dari adanya penjauhan yang terus menerus dari kebudayaaan eropa terhadap agama Kristen.
Sejarah keselamatan disekularisasikan menjadi sejarah dunia. Perbedaan antara sejarah suci dan sejarah profan dapat kita temukan kembali dalam perjanjian lama sebagai sejarah bangsa terpilih dan sejarah kaum kafir : dalam perjanjian baru sebagai kerajaan Allah melawan dunia. Dari Augustinus sampai Bossuet sejarah profane senantiasa dihubungkan dengan sejarah suci.
Dengan Voltaire maka mulailah ada emansipasi : ia menghubungkan sejarah religi dengan sejarah kebudayaan. Comite dan Marx menolak penyelenggaraan illahi dan menggantikan dengan kepercayaan akan kemajuan setelah emansipasi berlangsung. Messianisme dari Historis-materialisme dengan mudah dapat dikembangkan pada judaisme dan agama Kristen. Pola pertentangan antara dua kelompok yaitu surga dan neraka, kebaikan dan kejahatan. Semua itu antara lain merupakan aspek yang sama-sama diperoleh ganbaran yang lebih jelas mengenai pandangan sejarah modern.

BOSSUET (1637-1704)
Pandangan sejarah berdasarkan atas thesis, bahwa dalam sejarah manusia di tuntut oleh penyelenggaraan illahi. Segala peristiwa sementara itu bekerja sama untuk memenuhi penyelenggaraan illahi yang kekal. Semua kekuataan didunia turut bekerja tampa dikehendaki dan dimengerti untuk memenuhi rencana Tuhan. Pax Romana adalah bersamaan dengan kelahiran Kristus dan dipakai sebagai persiapaan untuk meluaskan injil suci.
Lebih-lebih sejarah dari bangsa yahudi banyak merupakan manifestasi dari penyelenggaraan illahi. Bangsa Assria dan Babilonia dipergunakan untuk menyiksa umat Allah : bangsa Persia dipakai untuk memperbaiki mereka, Alexandria untuk melindungi mereka, sedang bangsa romawi untuk membebaskan mereka.

VOLTAIRE (1694-1778)
“Essai” dan Voltaire adalah filsafat sejarah pertama, yang berarti emansipasi atas interpretasi sejarah secara theologies. Voltaire mentafsirkan fakta kebudayaan dengan norma akal manusia biasa. Bagunya peradabaan berarti perkembangan progresif dari ilmu pengetahuan, kesenian, moral.
Tujuan sejarah ditentukan oleh akal kita sendiri, yaitu untuk memperbaiki kondisi hidup manusia, dalam arti untuk mengurangi kebodohan mereka dan dengan demikian agar dapat hidup lebih baik. Apa yang dibangun oleh Voltaire adalah sejarah yang diberi aspek profan. Bukan penyelenggara illahi, melainkan akallah yang memimpin manusia masa silam yang kelam menuju kemasa kini yang terang dan masa mkini akan menuju kemasa mendatang yang lebih cemerlang. Jadi harapan orang Kristen pada penebusaan telah disekularisasikan menjadi harapan yang tak tentu pada masa dating.

CONDERCEI {1743-1794}
Sebagai penganut teori kemajuan ia juga percaya bahwa manusia akhirnya akan sempurna. Tujuan yang sebenarnya dari kemajuan adalah penyempurnaan pengetahuan dan kebahagiaan. Kemajuan adalah tidak tertentu, batasanya tergantung pada lamanya umur bumi dan kekekalan hokum alam semesta. Sebagai akibatnya ialah bahwa sejumlah besar manusia, karena urusan-urusan perdagangannya telah menempati seluruh permukaan bumi. Akan tibalah suatu waktu dimana terdapat bangsa-bangsa yang bebas.
Bagi Condorcet letak kemajuan itu dengan adanya perbaikan-perbaikan industri dan tehnik. Perbaikan bangsa manusia akan mempengaruhi konstitusi alamiah dan akan menangguhkan kematian. Karena adanya makanan yang sehat. Moral manusia dan konstitusi intellectual dapat juga mengalami kemajuan oleh adanya pewarisan yang menumpuk mulative.

St. Siomon (1760-1825)
St. Simon mencoba menerapkan hukum alam pada bidang social dan moral. Disampin itu ia juga membedakan antara periode organisasi dan konstruksi dengan masa kritis sampai dengan penyerbuan bangsa barbar. Periode karel agung sampai kira-kira tahun1500 adalah periode organisasi : dengan tampilannya luther maka mulai masa kritis yang baru. abad pertengahan. adalah periode organisasi, dimana asas organisasi social direalisasikan oleh hubungan yang tepat dari pengetahuan rohani dan pengetahuan sementara didasarkan atas doktrin umum.
Comite (1798-1857)
Seperti halnya St. Simon, Comite juga bertolak pada asaa, bahwa perkembangan kebudayaan adalah mengikuti hukum yang fundamental. Kemudian ia sampai pada pembagian kebudayaan dalam tiga stadia :
1.Stadium theologies yang disamakan dengan masa kanak-kanak dimana pemikiran masih bersifat fiktif
2.Stadium methapisis, disamakan dengan masa remaja dengan fikiran-fikiran yang abstrak
3.Stadium positif, digambarkan sebagai masa dewasa, dengan pemikiran secara ilmu pengetahuan
Sejarah universal dari Comite adalah gerak kemajuan yang lurus dari keadaan primitil kearah tingkatan yang lebih tinggi dan lebih baik.
Kurangnya stabilitas dalam tertib social disebabkan oleh adanya koeksistensi yang kacau dari tiga stadia yang berbeda. Kini yang perlu dilakukan adalah filsafat positif agar pengaruhnya pada kehidupan social dapat diperkuat dan seluruh masyarakat dapat dikonsolidasikan.

HEGEL (1770-1831)
Pandangan sejarah bertolak dari thesis, bahwa akala adalah azas\dari dunia. Akallah yang bekerja di dalam dan di balik nafsu, usaha dan fikiran, maupun kepentingan-kepentingan manusia. Manusia berfikir dan berusaha mencapai tujuannya, namun secara tidak sadar mereka memenuhi suatu tujuan umum yaitu : perwujudan dari ide. Manusia adalah sekedar alat dari itu.
Realisasi diri dari roch didalam waktu ini adalah pernyataan yang semakin maju dari fikiran bebas. Pendidikan dari roch menuju realisasi dan kesadaran dalam kebebasan berlangsung dari gerakan dari timur kearah barat. Sejarah dunia mulai di timur dan berakhir di barat. Ia dimulai dari kerajaan timur yang besar, yaitu cina, Persia dan India. Karena kemenangan yang menentukan dari bangsa yunani atas bangsa Persia maka sejarah berpindah kelaut tengah dan berakhir dengan kerajaan Kristen german di barat.

Karl Marx (1818-1883)
Apabila Hegel menganggap roch sebagai azas dari kenyataan sejarah, maka marx dalam histories materialnya bertolak dari kemasyarakatan yang histories. Dilihat dari segi ekonomis, maka kenyataan masyarakat dikuasai oleh hubungan-hubungan produksi.
Masyarakat bordjuis kapitalis sekarang, seperti halnya periode-periode yang mendahuluinya. Mengandung antagonisme social, yang disebabkan oleh cara-cara produksi kapitalistis. Dengan adanya perkembangan yang hebat dari kekuasaan industri dan ilmu pengetahuan maka timbullah disitu contrast-kontrast yang tajam.
Emansipasi individu akan tercapai dengan jalan menggulingkan tertib masyarakat yang ada. Proletariat , bangsa terpilihnya histories materialisme, adalah satu-satunya kekuatan revolusioner yang mempunyai potensi untuk menumbangkan masyarakat kapitalistis dan untuk membangun komunistis yang dicita-citakan.

Bab 7
Teori-Teori Sejarah
Oleh : Prof. Drs. H. Rustam E. Tamburaka, MA.

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah
1. pengertian teori sejarah
Menciptakan suatu teori tidak semuda mencipta atau merumuskan suatu definisi. Teori harus melalui dengan serangkaian percobaan penelitian yang rumit dan lama barulah seorang ilmuan dapat menciptakannya. Teori tersebut haruslah ditopang dengan sebuah kenyataan, kemudian dari kenyataan melahirkan fakta-fakta empiric, dari fakta empiric kemudian melahirkan generalisasi-generalisasi empiric. Dari generalisasi empiric diuraikan menjadi sub-sub generalisasi dan kembali lagi ke generalisasi empiric. Dari generalisasi-generalisasi empiric inilah kemudian terciptalah sebuah teori.jadi teori adalah hulu atau sumber suatu proposisi ilmiah. Cara mengujinya adalah melalui prosedur penelitian dengan menggunakan asumsi/hipotesis-hipotesis kemidian diuji/dibuktikan berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan……………….
1.Gerak Sejarah Menurut Hokum Fatum Atau Nasib

Alam fikiran bangsa yunani adalah dasar dari perkembangan alam fikiran bangsa-bangsa barat. Salah satu hal yang penting dari alam bangsa yunani itu adalah angapan tentang adanya manusia dan alam. Menurut alam fikiran bangsa yunani pada dasarnya alam raya sama dengan alam kecil yaitu manusia. Jadi menurut bangsa yunani macro cosmos sama dengan micro cosmos. Disebut juga oleh alam fikiran bangsa yunanibahwa kekuatan gaiblah yang menguasai baik macro cosmos maupun micro cosmos. Sehingga dengan demikian perjalanan alam semesta ini ditentukan oleh kekuatan gaib atau nasib. Misalnya perjalanan matahari, bulan, bintang, manusia dsb. Oleh sebab itu perjalanan alam semesta itu tidak tidak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan “ nasib “.
Deengan demikian yang menjadi dasar dari segala hokum cosmos alamlah hokum lingkaran atu hokum “ cyclus ‘ didalam hokum cyclus setiap peristiwa akan terulang lagi atau terjadi kembali, seperti halnya matahari akan terbit diufuk sebelah timur pada setiap pagi. Hukun cyclus di Indonesia dikenal sebagai “ cakra manggiling “.
Didalam cakra manggiling ini, manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkaran cakra tersebut. Semua kejadian dan peristiwa akan berjalan dengan pasti. Oleh sebab itu cakra merupakan lambing dari nasib yang terus menerus berputar secara abadi dan tidak ada putus-putusnya. Dikala hal ini “ nasib “ merupakan kekuatan tanggal yang berfungsi sebagai pengerak peristiwa sejarah. Berdasarkan alam fikiran seperti tersebut diatas, maka bangsa hidup secara bebas dan tidak usah memikirkan sesuatu, sebab segala sesuatu akan terjadi dengan sendirinya.

2. Gerak Sejarah Berdasarkan Faham Santo Augustinus
Famah fotum atau nasib yunani kemudian menjelma dalam agama nasrani sebagai faham ketuhanan dengan sifat – sifat yang sama yaitu :
a.Kekuatan nasib menjadi tuhan
b.Sejarah seharusnya menurut rencana alam atau menurut kekuatan nasib kehendak tuhan.
Didalam faham ini manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan nasubnya sendiri. Manusia harus menerima nasib yang diwariskan oleh tuhan yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Sebab menerut teori augoskomto tuhan sudah menentukan jalan hidup manusia dan alam.
Didalam hal ini manusia dan alam tidak bisa merubah garis hidup yang sudah ditentukan itu.
Berdasarkan hal itu maka, tujuan dari gerak sejarah adalah untuk mewujudkan kehendak tuhan, didalam mewujudkan kehendak tuhan itu, barang siapa yang menerima kehendak tuhan maka dia akan diterima disorga. Tetapi sebaliknya barang siapa yang menentang kehendak tuhan maka dia akan masuk neraka. Sehubungan dengan itu maka, sejarah masa kini merupakan masa percobaan atau masa ujian bagi manusai, kehendak tuhan harus diterima oleh manusia dengan rela.
Keharusan untuk menerima kehendak tuhan tersebut disebabkan karena ancaman barang siapa yang menolak kehendak tuhan maka akan jadi penghuni neraka.

3. Gerak Sejarah Berdasarkan Pendapat Ibn Khaldun
Perlu diketahui bahwa Ibn Khaldun seorang sajana arab yang tersohor yang hidup diantara than 1332 – 1406 masehi. Teorinya tentang gerak sejarah hamper sama dengan teori santo Augustinus. Perbedaan antara kedua teori itu tidak terlalu banyak, dimana teori Ibn Khaldun tidak memusatkan pada dinia akhirat.
Lebih dari itu Ibn Khaldun berpendapat bahwa sejarak merupakan ilmu yang berdasarkan kenyataan. Sejarah itu bergerak dengan tujuan agar manusia sadar terhadap perubahan – perubahan yang terjadi.
Kesadaran itu merupakan usaha dari manusia itu sendiri untuk menyempurnakan hidupnya. Sedang segala perubahan – perubahan yang terjadi itu Karena kehendak tuhan. Terjadinya perubahan tersebut dapat melalui beberapa cara misalnya : revolusi, pemberontakan, pergantian adapt atu lembaga dsb. Perubahan – perubahan ini oleh Ibn Khaldun dianggap dengan kemajuan.
Dengan berdasarkan itu semua perbedaan antara kedua teori itu menjadi semakin jelas yaitu :
a.Menurut Santo augustino,sejarah akan berakhir pada dwi tunggal yaitu sorga dan neraka. Sedang menurut Ibn Khaldun sejarah justru akan melahirkan beraneka ragam masyarakat dan Negara yang semakin lama semakin maju dengan kehidupan manusia yang semakin sempuna.
Teori santo Augustinus menciptakan manusia penyerah, sedang sedang teori Ibn Khaldun mendidik manusia menjadi pejuang – pejuan yang tidak kenal mundur dan menyerah, untuk menuju kearah kebahagiaan dalam masyarakat atau Negara yang beraneka ragam.
4.gerak sejarah berdasarkan pendapat Oswald Spengler ( 1880 – 1936 )
Oswald Spengler menjadi terkenal, karena buku yang ditttulisnya sangat berpengaruh terhadap jalan pikiran terutama para cendekiawan-cendekiewan eropa dan amerika, bukan yang ditulinya berjudul “ der untergang des abenlandes “ atau decline of the west yang artinya runtuhnya dunia barat. Didalam tulisanya itu Oswald Spengler berperan seolah-olah sebagai ahli nujum yang dapat meramalkan runtuhnya eropa.
Ramalan Oswald Spengler tersebut berdasrkan atas keyakinan bahwa gerah sejarah itu ditentukan dengan nasib. Untuk mengupas gerak sejarah itu Oswald Spengler mengemukakan sebuah teori yang pada intinya dengan teorinya itu Oswald Spengler berpendapat bahwa sebuah kehidupan suatu kebudayaan sama saja dengan peri kehidupan manusia.
Timbullah persamaan itu disebabkan karena baik kebudayaan maupun kehidupan manusia dikuasai oleh hokum cyclus.
Hokum cyclus tersebut digambarkan sebagai berikut :
No
A 1 a m
manusia
tumbuh – tumbuhan
hari
kebudayaan

musim semi
bayi
Pertumbuhan
Pagi
Pertumbuhan

musim panas

kedewasaan
Berkembang
Siang
Berkembang

Musim dingin
masa tua
Berubah
Sore
Kejayaan

musim rontok
mati
rontok
malam
keruntuhan
(R.Mohammad Ali)

5. Gerak Sejarah Menurut Arnoldd J. Toynbee
Arnoldd J. Toynbee adalah seorang sarjana inggris yang mampu menggambarkan sejarah dengan tulisannnya yang berjudul “ a Study of Histori” buku tersebut seluruhnya berisi 12 jilid dan merupakan hasil penyelidikan dari 21 kebudayaan yang sudah sempurna. Misalnya yunani-romawi, maya (amirika serikat0dll. Dan 9 kebudayaan dan yang kuqng sempurna. Misalnya : Eskimo, Sparta, Polynesia, turki, Dsb.
Berdasarkan penyelidikan tersebut sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada hokum tertentu. Akibat tidak ada kekuatan yang mengatur dan menguasai kebudayaan. Demikian pula di kemukakan oleh Arnoldd J. Toynbee bahwa seluruh kebudayaan itu sama dengan civilization yang artinya wujud dari seluruh kehidupan. Sedang gerak sejarah menurut Arnoldd J. Toynbee berjalan melalui tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
a.Genesis of civilization artinya lahirnya kebudayaan
b.Growth of civilization artinya perkembangan kebudayaan
c.Decline v artinya runtuhnya kebudayaan
Kemudian runtuhnya kebudayaan itu dapat dibagi menjadi:
1.Breakdown of civilization artinya kemerosotan kebudayaan
2.disintegration of civilization artinya kehancuran kebudayaan
3.dissolution of civilization artinya hilangnya kebudayaan
lahirnya suatu kebudayaan menurut Arnoldd J. Toynbee disebabkan karena adanya tantangan dan jawaban antara manusia dengan alam sekitarnya, kalau alam memberikan tantangan yang baik maka hal ini memberikan kemungkinan kepada manusia untukmembangun sebuah kebudayaan. Tetapi jika sebaliknya, alam terlalu keras memberikan tantangan kepada manusia, maka manusia sama sekali tidak membangun suatu kebudayaan. Misalnya gurun pasir sahara, gurun gobi dan gurun Kalahari. Disana tidak ditemukan kebudayaan yang dibangun manusia. Kemudian perkembangan pertumbuhan suatu kebudayan itu digerakkan oleh sebagian kecil dari pemilik kebudayaan itu sendiri. Sebab golongan kecil atau minoritas inilah yang merupakan penciptaan kebudayaan. Sdangkan masa atau golongan mayoritas hanyalah menru saja. Dengan demikian tampa adanya golongan minoritas yang kuat dan kereatif, maka suatu kebudayaan tidak akan pernah berkembang. Sebaliknya jika golongan minoritas itu lemah dan hilangnya daya ciptanya akibatnya semua tantangan alam tidak dapat dijawab. Lebih-lebih kalau golongan minoritas itu menyerah atau mundur didalam menghadapi tanntangan alam. Maka kebudayaan itu tidak akan berkembang lagi. Jika keadaan ini memuncak, akhirnya runtuh kebudayaan itu. Hanya runtuhnya kebudayaan itu melalui beberapa tingkatan.
a.Kemerosotan kebudayaan
Kemerosotan kebudayaan itu terjadi jika golongan minoritas sudah kehilangan daya ciptanya, jikalau sudah dalam keadaan yang demikian, maka golongan mayoritas tidak mau lagi mengikuti jejak selaku golngan minoritas. Selanjutnya segala peraturan didalam kebudayaan itu hubungan antara mayoritas dan minoritas pecah berantakan. Keadaan yang semacam ini dapat menyebabkan tunas-tunas kebudayaan yang semestinya masih adapat tumbuh dan berkembang lenyap sama sekali.
b.Kehancuran kebudayaan
Hancurnya kebudayaan itu akan tampak jika tunas-tunas kebudayaan itu mati sama sekali yang mengakibatkan terhentinya pertumbuhan dan perkembangan itu sendiri. Maka daya dan gairah hidupmenjadi beku yang menyebabkan itu tidak mempunyai jiwa lagi. Arnoldd J. Toynbee meyebetkan keadaan yang semacam ini sebagai pembatuan dimana semua unsur-unsur kebudayaan mejadi batu atau fosil
c.Lenyapnya kebudayaan
Lenyabnya kebudayaan itu terjadi jika tubuh kebudayaan yang sudah membatu itu hancur dan lenyap sama sekali.
6. Gerak Sejarah menurut teori Pitirin Sorokin
Sorokin adalah seoran sarjana Rusia yang mengungsi di amerika serikat sejak meletusnya revolusi komonis di rusia. Dia adalh seorang akhli sosiologi yang terkenal, teori sorokin ini, sangat lain dari yang lain. Sorokin tidak mengakui adanya CICLUS yang membelengu kehidupan manusia. Dia juga mau menerima teori yang menuju “ fluctuation from aga to ago “ atau turun naiknya, pasang surut dan timbul tengelamnya kebudayaan yang berlangsung secara berganti-ganti, jelas bahwa yang mengalami fluctuation itu adalah kebudayaan. Pada hal kebudayaan itu terdapat tiga corak aliran kebudayaan yang tertentu yaitu:
a.Identional yaitu aliran kebudayaan yang bercorak kerohanian, keagamaan dan kepercayaan.
b.Sensato yaitu corak kebudayaan yang serba jasmaniah, mengenai keduniaan yang berpusatkan pada pancaindera.
c.Perpaduan antara identional dengan sensato yang disebut kebudayaan yang disebut kebudayaan campuran atau Identio. Corak kebudayaan ini lebih bersifat kompromi.

Berdasarkan teori sorokin itu, setiap kebudayaan pasti akan mengalami pasang surut atau timbul tenggalam, padasuatu saat corak kebudayaan identional yang menonjol. Tetapi pada saat yang lain corak kebudayaan sensatonya yang berada diatas. Mungkin sekali timbul corak kebudayaan yang kompronis artinya corak identional dan corak idonlistionya menjadi satu didalam satu corak kebudayaan, sehingga dengan demikian menurut sorokin didalam gerak sejarah tidak terdapat hari akhir seperti teori yang diketengahkan oleh agustinus. Begitu juga kebudayaan tidak akan hancurseperti didalam teorinya Oswald spengler.
Dari teori yang dikemukakan oleh fitiria sorokindapat ditarik kesimpulan bahwa sorokin tidak berusaha untuk mencari pangkal gerak dari sejarah, demikian pula juga tidak berusaha untuk menetapkan muara gerak dari sejarah. Kalau begitu kearah manakah tujuan dari grak sejarah itu?
Dengan membanding-bandingkan teori-teori tersebut diatas, dapatlah ditentukan bahwa gerak sejarah itu adalah gerak dari manusia yang berjuang, berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri berdasarkan kemungkinan yang ada pada diri manusia itu. Kemudian apakah yang dimaksud dengan kemungkinan manusia itu?

*) dosen Universitas 17 agustus 1945 banyuwangi dan MSI (masyarakat Sejarawan Indonesia )Komisariat banyuwangi

Published in: on January 13, 2010 at 2:57 am  Comments (1)  

PKI di banyuwangi

PKI di Banyuwangi

oleh: Miskawi*

Kemerdekaan Bangsa Indonesia di dapat bukan dengan jalan yang mudah tetapi melewati perjuangan yang panjang. Gagalnya perjuangan fisik yang dilakukan bangsa Indonesia sejak pertama kali Kolonialis Belanda ke Indonesia menjadikan kaum terpelajar Indonesia tahun 1596 menjadikan kaum terpelajar Indonesia merubah arah perjuangan kearah perjuangan non fisik melalui sistem kepartaian.

Bentuk perjuangan tersebut salah satunya berupa organisasi-organisasi salah satunya munculnya organisasi Budi Utomo (1908). Sejak munculnya Budi Utomo inilah bermunculan pula organisasi-organisasi masyarakat yang pada akhirnya berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Salah satu organisasi politik yang terbentuk pada waktu itu adalah Indische Sociaal Demokratische Vereeniging (ISDV) pada tahun 1913 yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan satu-satunya organisasi politik di Indonesia yang beraliran sosialis. Dalam perkembangannya PKI banyak mendapatkan simpati dari masyarakat bawah yang terdiri dari golongan pedagang dan petani serta buruh karena tertarik dengan propaganda-propaganda yang didengungkan oleh anggota PKI. PKI juga menerapkan kebijakan politik partai untuk menyusup dan memecah belah partai lain agar akhirnya bergabung dengan PKI. Hal tersebut terjadi pada Sarekat Islam yang kemudian pecah menjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah (Cahyo, 2004:17).

Keberadaan PKI di Indonesia berkembang sangat pesat terutama setelah Indonesia Merdeka. Perasaan benci bangsa Indonesia terhadap negara barat dan paham-pahamnya membuat Indonesia awal kemerdekaan lebih dekat dengan aliran sosialis. Hal ini juga ditambah lagi oleh pihak pemerintah Orde lama menasionalisasikan berbagai modal orang-orang eropa tanpa memberi ganti rugi (Soewarso, 1989: 168) . Kurannya keharmonisan tersebut dimanfaatkan oleh Komunisme.

Sejak tahun 1965 PKI mampu menjadi partai politik besar yang disegani oleh lawan politiknya. Pada tahun 1965 PKI banyak melakukan pembunuhan demi mencapai tujuannya untuk membentuk negara komunis Indonesia salah satunya pembunuhan terhadap para Jenderal di Jakarta yang buang kedalam Lubang Buaya dikenal sebagai pahlawan revolusi. Hal inilah yang nantinya dibalas pada tahun 1966 lewat pembantaian anggota PKI secara besar–besaran oleh berbagai lapisan masyarakat terutama masyarakat yang beragama Islam (Hermawan Sulistyo, 2000 :505).

Pembantaian PKI tersebut juga berdampak di Pulau Jawa bagian paling Timur yaitu Kabupaten Banyuwangi. Akan tetapi, tragedi pembantaian ini terjadi setelah pembunuhan para jendral yang dikenal gerakan 30 September 1965. Pembantaian PKI yang berada di Kabupaten Banyuwangi terjadi di Dusun Cemethuk, Desa Cluring Kecamatan Cluring merupakan saksi berdarah yang dilakukan terhadap 62 orang Ansor oleh PKI. Pembantaian tersebut dimasukkan kedalam 3 sumur tempat penguburan massal para korban pembantaian. (Data Prasasti Monumen Pancasila di Dusun Cemetuk, 1965).

Dilihat dari nilai sejarahnya, peristiwa yang terjadi di Cemetuk terdapat keunikan, yang pertama: akibat pembantaian PKI terhadap Pemuda Anshor maka dibuatkan monumen pancasila yang sebelah kanan kirinya terdapat patung raksasa dan sekaligus untuk mengenang peristiwa sejarah yang cukup penting dalam sejarah Banyuwangi sekaligus penanda pengembangan jaringan partai berlambang palu arit, seperti halnya Monumen Pancasila para Pahlawan Revolusi sebagai korban dari keganasan G 30 S/PKI, maka dibangun sebuah monumen pancasila; keunikan yang kedua terdapat sebuah relief yang menceritakan tentang pemberontakan antara PKI dan pemuda Anshor di daerah cemetuk; dan keunikan yang ketiga di Cemetuk terdapat tiga lubang buaya sebagai tempat penguburan massal.

Apabila kejadian-kejadian lokal ini diinventarisasi, maka mampu menambah khasanah sejarah Nasional Indonesia, bermanfaat bagi pembangunan substansi penulisan sejarah kontemporer Indonesia yang belum terjangkau sampai saat ini dan lebih-lebih dijadikan sarana pembelajaran bagi siswa-siswi, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Pengkajian sejarah PKI di Cemetuk didukung oleh sumber primer yang merupakan saksi hidup dari tragedi pembantaian tahun 1965.

Namun Sejarah Nasional hanya sedikit sekali menyediakan ruang untuk mengungkap sejarah PKI di Dusun Cemethuk Kabupaten Banyuwangi. Hal ini dibuktikan dengan minimnya buku-buku sejarah yang bisa menjelaskan tragedi di Cemethuk secara komprehensif atau tidak terkover secara maksimal sedangkan Pemerintah terlalu memfokuskan penulisan sejarah PKI dalam Gerakan 30 September dan mengabaikan penelitian sejarah di tingkat lokal. Padahal bila melihat pada banyaknya korban dan juga saling keterkaitan dengan perkembangan PKI di Nusantara, seharusnya Tragedi Cemethuk sangat relevan untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari Sejarah Nasional. Hal yang lebih parahnya lagi, masih banyak masyarakat Banyuwangi belum banyak mengetahui tentang keberadaan Monumen Pancasila dan lubang buaya sebagai akibat keganasan PKI cemetuk.

*) Dosen Universitas 17 agustus 1945 Banyuwangi dan masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Banyuwangi

Published in: on January 13, 2010 at 2:54 am  Leave a Comment  
Tags:

PKI di Banyuwangi

oleh: Miskawi*

Kemerdekaan Bangsa Indonesia di dapat bukan dengan jalan yang mudah tetapi melewati perjuangan yang panjang. Gagalnya perjuangan fisik yang dilakukan bangsa Indonesia sejak pertama kali Kolonialis Belanda ke Indonesia menjadikan kaum terpelajar Indonesia tahun 1596 menjadikan kaum terpelajar Indonesia merubah arah perjuangan kearah perjuangan non fisik melalui sistem kepartaian.

Bentuk perjuangan tersebut salah satunya berupa organisasi-organisasi salah satunya munculnya organisasi Budi Utomo (1908). Sejak munculnya Budi Utomo inilah bermunculan pula organisasi-organisasi masyarakat yang pada akhirnya berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Salah satu organisasi politik yang terbentuk pada waktu itu adalah Indische Sociaal Demokratische Vereeniging (ISDV) pada tahun 1913 yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan satu-satunya organisasi politik di Indonesia yang beraliran sosialis. Dalam perkembangannya PKI banyak mendapatkan simpati dari masyarakat bawah yang terdiri dari golongan pedagang dan petani serta buruh karena tertarik dengan propaganda-propaganda yang didengungkan oleh anggota PKI. PKI juga menerapkan kebijakan politik partai untuk menyusup dan memecah belah partai lain agar akhirnya bergabung dengan PKI. Hal tersebut terjadi pada Sarekat Islam yang kemudian pecah menjadi Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah (Cahyo, 2004:17).

Keberadaan PKI di Indonesia berkembang sangat pesat terutama setelah Indonesia Merdeka. Perasaan benci bangsa Indonesia terhadap negara barat dan paham-pahamnya membuat Indonesia awal kemerdekaan lebih dekat dengan aliran sosialis. Hal ini juga ditambah lagi oleh pihak pemerintah Orde lama menasionalisasikan berbagai modal orang-orang eropa tanpa memberi ganti rugi (Soewarso, 1989: 168) . Kurannya keharmonisan tersebut dimanfaatkan oleh Komunisme.

Sejak tahun 1965 PKI mampu menjadi partai politik besar yang disegani oleh lawan politiknya. Pada tahun 1965 PKI banyak melakukan pembunuhan demi mencapai tujuannya untuk membentuk negara komunis Indonesia salah satunya pembunuhan terhadap para Jenderal di Jakarta yang buang kedalam Lubang Buaya dikenal sebagai pahlawan revolusi. Hal inilah yang nantinya dibalas pada tahun 1966 lewat pembantaian anggota PKI secara besar–besaran oleh berbagai lapisan masyarakat terutama masyarakat yang beragama Islam (Hermawan Sulistyo, 2000 :505).

Pembantaian PKI tersebut juga berdampak di Pulau Jawa bagian paling Timur yaitu Kabupaten Banyuwangi. Akan tetapi, tragedi pembantaian ini terjadi setelah pembunuhan para jendral yang dikenal gerakan 30 September 1965. Pembantaian PKI yang berada di Kabupaten Banyuwangi terjadi di Dusun Cemethuk, Desa Cluring Kecamatan Cluring merupakan saksi berdarah yang dilakukan terhadap 62 orang Ansor oleh PKI. Pembantaian tersebut dimasukkan kedalam 3 sumur tempat penguburan massal para korban pembantaian. (Data Prasasti Monumen Pancasila di Dusun Cemetuk, 1965).

Dilihat dari nilai sejarahnya, peristiwa yang terjadi di Cemetuk terdapat keunikan, yang pertama: akibat pembantaian PKI terhadap Pemuda Anshor maka dibuatkan monumen pancasila yang sebelah kanan kirinya terdapat patung raksasa dan sekaligus untuk mengenang peristiwa sejarah yang cukup penting dalam sejarah Banyuwangi sekaligus penanda pengembangan jaringan partai berlambang palu arit, seperti halnya Monumen Pancasila para Pahlawan Revolusi sebagai korban dari keganasan G 30 S/PKI, maka dibangun sebuah monumen pancasila; keunikan yang kedua terdapat sebuah relief yang menceritakan tentang pemberontakan antara PKI dan pemuda Anshor di daerah cemetuk; dan keunikan yang ketiga di Cemetuk terdapat tiga lubang buaya sebagai tempat penguburan massal.

Apabila kejadian-kejadian lokal ini diinventarisasi, maka mampu menambah khasanah sejarah Nasional Indonesia, bermanfaat bagi pembangunan substansi penulisan sejarah kontemporer Indonesia yang belum terjangkau sampai saat ini dan lebih-lebih dijadikan sarana pembelajaran bagi siswa-siswi, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Pengkajian sejarah PKI di Cemetuk didukung oleh sumber primer yang merupakan saksi hidup dari tragedi pembantaian tahun 1965.

Namun Sejarah Nasional hanya sedikit sekali menyediakan ruang untuk mengungkap sejarah PKI di Dusun Cemethuk Kabupaten Banyuwangi. Hal ini dibuktikan dengan minimnya buku-buku sejarah yang bisa menjelaskan tragedi di Cemethuk secara komprehensif atau tidak terkover secara maksimal sedangkan Pemerintah terlalu memfokuskan penulisan sejarah PKI dalam Gerakan 30 September dan mengabaikan penelitian sejarah di tingkat lokal. Padahal bila melihat pada banyaknya korban dan juga saling keterkaitan dengan perkembangan PKI di Nusantara, seharusnya Tragedi Cemethuk sangat relevan untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari Sejarah Nasional. Hal yang lebih parahnya lagi, masih banyak masyarakat Banyuwangi belum banyak mengetahui tentang keberadaan Monumen Pancasila dan lubang buaya sebagai akibat keganasan PKI cemetuk.

*) Dosen Universitas 17 agustus 1945 Banyuwangi dan masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Banyuwangi

Published in: on January 13, 2010 at 2:36 am  Leave a Comment  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on January 11, 2010 at 2:30 pm  Leave a Comment